Humas IAIN Parepare — Suasana pengukuhan guru profesional di Auditorium IAIN Parepare, Sabtu (18-04-2026), berubah haru ketika Jasriani Jamal, S.Pd., Gr., menyampaikan kesan dan pesan mewakili 498 peserta Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Batch IV.
Dengan suara bergetar, Jasriani membuka sisi lain dari perjalanan menjadi guru profesional, sebuah proses yang tidak hanya menuntut kecerdasan, tetapi juga ketahanan mental dan pengorbanan personal. Sambutan yang disampaikan secara spontan itu justru menjadi momen paling menyentuh dalam rangkaian acara.
Mahasiswa asal Kabupaten Luwu yang meraih IPK 3,83 tersebut menempuh perjalanan darat selama empat jam menuju Parepare bersama keluarga. Di tengah kelelahan perjalanan, ia tetap tampil penuh ketulusan, menyampaikan pengalaman kolektif yang dialami ratusan guru selama menjalani pendidikan PPG.
Ia mengungkapkan, empat bulan masa pendidikan menjadi fase paling menantang dalam hidupnya. Malam-malam panjang dengan pilihan antara istirahat atau menyelesaikan tugas menjadi realitas yang harus dihadapi.
“Banyak dari kami harus mengajar di pagi hari, lalu menyelesaikan tugas hingga larut malam. Bahkan, ada yang menyusun modul sambil menggendong anak yang sedang demam,” tuturnya.
Tidak hanya itu, Jasriani juga menyinggung keterbatasan yang dihadapi peserta, mulai dari kendala jaringan internet hingga tekanan emosional saat menjalani presentasi daring. Namun, di balik segala keterbatasan tersebut, semangat untuk menjadi guru yang lebih baik tetap menjadi penggerak utama.
Momen pengukuhan ini juga terasa personal bagi Jasriani. Meski didampingi orang tua dan anaknya, ia harus menerima kenyataan bahwa sang suami tidak dapat hadir karena tuntutan pekerjaan. Situasi tersebut justru mempertegas bahwa keberhasilan hari itu adalah hasil dari dukungan dan pengorbanan banyak pihak.
Di akhir sambutannya, Jasriani mengingatkan bahwa gelar guru profesional bukan sekadar simbol administratif, melainkan amanah moral yang harus diwujudkan dalam praktik pendidikan sehari-hari.
Ia mengajak seluruh guru untuk membawa semangat “Cahaya Peradaban” ke ruang-ruang kelas, termasuk di daerah dengan segala keterbatasannya.
“Jika suatu hari kita lelah, ingatlah malam-malam saat kita berjuang untuk menjadi guru yang lebih baik,” pesannya.
Sambutan tersebut ditutup dengan pantun perpisahan yang disambut tepuk tangan panjang, menandai salah satu momen paling berkesan dalam pengukuhan PPG IAIN Parepare tahun ini.
Penulis: Irmawati
Editor: Suhartina