Humas IAIN Parepare- Riuh tepuk tangan menggema di dalam Gedung Auditorium IAIN Parepare pada, Sabtu (14/02/2026). Di antara ratusan wisudawan yang hadir dalam prosesi Wisuda Tahap I tersebut, nama Dini Fitrilia dipanggil dengan penuh kehormatan. Mahasiswi Program Studi Manajemen Keuangan Syariah ini resmi menyandang predikat Wisudawan/i Terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) dengan pencapaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang nyaris sempurna, yakni 3,95.
Keberhasilan Dini menuntaskan studi dalam waktu 4 tahun 3 bulan bukanlah sebuah kebetulan. Bagi gadis kelahiran Barru, 17 April 2004 ini, toga yang ia kenakan hari ini adalah simbol dari ribuan jam kerja keras dan konsistensi yang tak pernah putus. Anak ketiga dari pasangan H. Abd. Rasyid dan almarhumah Hj. Ruhang, Dini membawa harapan besar keluarganya dari Dusun Palanro, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, menuju mimbar akademik tertinggi di kampusnya.
Perjalanan Dini menuju podium terbaik tidaklah selalu mulus. Ia mengakui bahwa pada masa awal perkuliahan, ia sempat merasa tertatih-tatih mengikuti ritme akademik yang sangat dinamis. Tempo pembelajaran yang cepat di bangku kuliah seringkali membuatnya merasa kewalahan dalam menyerap materi yang disampaikan oleh para dosen. Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, Dini justru melipatgandakan usahanya.
"Hambatan akademik yang paling terasa adalah sulitnya memahami materi karena tempo kuliah yang cepat. Saya mengatasinya dengan membuat jadwal belajar rutin. Prinsip saya, belajar itu setiap hari, bukan hanya saat ujian tiba. Saya juga selalu memastikan mencatat setiap poin penting ketika dosen menjelaskan di kelas," ungkap Dini saat ditemui usai prosesi ikrar alumni wisuda.
Selain tantangan intelektual, manajemen waktu juga menjadi medan tempur tersendiri bagi Dini. Masalah-masalah seperti rasa malas, risiko bangun kesiangan, hingga jadwal kegiatan yang bentrok seringkali menghampiri. Untuk mengatasinya, ia menerapkan disiplin militer pada dirinya sendiri dengan memasang alarm ketat, menghindari tidur larut malam, dan menyusun skala prioritas tugas berdasarkan urgensi tenggat waktu.
Faktor geografis pun turut menguji ketangguhannya selama kuliah. Jarak rumah yang cukup jauh dari kampus menuntut Dini untuk memiliki fisik dan mental yang kuat. Belum lagi tantangan cuaca yang tidak menentu dan kendala transportasi yang kerap muncul secara tiba-tiba. Dini bercerita bahwa dirinya seringkali harus berangkat jauh lebih awal dari biasanya ketika cuaca buruk, demi memastikan dirinya tidak kehilangan satu menit pun waktu di ruang kelas.
Kemandirian Dini juga teruji saat sistem perkuliahan beralih ke mode daring (online) akibat dinamika teknologi. Masalah jaringan internet yang tidak stabil di daerahnya menjadi hambatan besar. Namun, Dini punya cara cerdik. "Saya selalu mengusahakan untuk mengunduh semua materi perkuliahan jauh sebelum kelas dimulai dan siap berpindah-pindah tempat demi mencari lokasi dengan sinyal internet yang lebih kuat agar tetap bisa mengikuti diskusi dengan lancar,” ungkap Dini.
Di balik semua strategi teknis tersebut, ada satu kekuatan spiritual yang membuatnya tetap tegak berdiri. Dini memegang teguh motto hidup yang sangat menyentuh: "Pelan bukan berarti tertinggal." Baginya, setiap orang memiliki garis start dan kecepatan masing-masing. Ia percaya bahwa fokus pada perbaikan diri sendiri jauh lebih penting daripada membuang energi untuk membandingkan pencapaian diri dengan orang lain yang memiliki fasilitas berbeda.
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa latar belakang sebagai anak seorang petani bukanlah penghalang untuk mengukir prestasi gemilang di tingkat fakultas. Prestasi ini ia persembahkan khusus untuk sang ayah yang telah berjuang keras di sawah, serta untuk almarhumah ibundanya yang selalu menjadi motivasi dalam setiap sujud dan doanya. Dini telah membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan tantangan jarak bisa dikalahkan dengan manajemen waktu yang apik dan tekad yang membaja.
Kini, dengan gelar Sarjana Ekonomi di belakang namanya, Dini Fitrilia siap melangkah ke babak baru dalam kehidupannya. Kisahnya yang sarat akan nilai kedisiplinan dan kesabaran ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa-mahasiswa lain di IAIN Parepare. Bahwa pada akhirnya, hasil yang membanggakan hanya akan berpihak kepada mereka yang berani berproses, seberat apa pun tantangan yang merintang di hadapan mata.
Penulis : Nur Aeny
Editor: Mifda Hilmiyah