Skip ke Konten

Inspiratif! Sulvinajayanti Perjuangkan Warisan Budaya Lewat Hibah Nasional

23 Mei 2026 oleh
Humas IAIN Parepare
Humas IAIN Parepare—Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh akademisi IAIN Parepare. Dr. Sulvinajayanti, M.I.Kom berhasil lolos sebagai penerima dana hibah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX.

Dr. Sulvinajayanti yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Pengembangan Standar dan Akreditasi IAIN Parepare tersebut berhasil melewati proses seleksi yang kompetitif. Dari total 256 peserta yang mengikuti seleksi administrasi, hanya peserta terpilih yang berhak melanjutkan ke tahap wawancara hingga akhirnya ditetapkan sebagai penerima hibah.

Dalam program tersebut, ia mengusung karya bertajuk “Tudang Mattennung: Merajut Kembali Pengetahuan Motif Lipa’ Sabbe di Kabupaten Wajo.” Program ini berfokus pada upaya pelestarian pengetahuan lokal terkait motif lipa’ sabbe, kain sutra khas Bugis yang sarat nilai filosofis dan identitas budaya masyarakat Wajo.

Sebagai Kepala Pusat Penjaminan Standar dan Akreditasi, Dr. Sulvinajayanti menilai bahwa pelestarian budaya juga merupakan bagian penting dari penguatan mutu pendidikan tinggi, khususnya dalam menghadirkan tridarma yang berdampak bagi masyarakat. Menurutnya, kampus tidak boleh hanya menjadi ruang akademik yang menghasilkan teori, tetapi juga harus mampu menjaga dan mengembangkan pengetahuan lokal sebagai bagian dari identitas bangsa.

“Pemajuan kebudayaan memiliki hubungan erat dengan kualitas institusi pendidikan. Perguruan tinggi perlu hadir tidak hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pelestarian nilai, tradisi, dan kearifan lokal. Program ini menjadi salah satu bentuk kontribusi akademik dalam menjaga keberlanjutan pengetahuan budaya masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa dokumentasi dan revitalisasi motif lipa’ sabbe penting dilakukan agar warisan budaya tidak kehilangan makna di tengah arus modernisasi. “Akreditasi pada dasarnya berbicara tentang mutu dan keberlanjutan. Dalam konteks budaya, keberlanjutan itu berarti memastikan pengetahuan lokal tetap hidup, dikenali, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tambahnya.


Program Tudang Mattennung diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara penenun, komunitas budaya, akademisi, dan generasi muda dalam mendokumentasikan sekaligus menghidupkan kembali pengetahuan motif lipa’ sabbe di Kabupaten Wajo. Selain memperkuat identitas budaya Bugis, program ini juga dinilai mampu memperluas kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan budaya lokal di tengah perubahan zaman.

Penulis: Irmawati

Editor: Violet

di dalam Berita
155 Mahasiswa MKS IAIN Parepare Ikuti Praktik Investasi Syariah di Sekolah Pasar Modal