Humas IAIN Parepare – Di tengah arus informasi yang kian cepat, IAIN Parepare menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam lanskap pengetahuan. Melalui perayaan Milad ke-7 IPN Press yang bertepatan dengan Hari Buku dan Hak Kekayaan Intelektual Internasional 2026, kampus ini menunjukkan bahwa kekuatan intelektual harus ditulis, diterbitkan, dan disebarluaskan.
Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium Terpadu, Kamis (23-4-2026), dihadiri sekitar 200 peserta yang terdiri atas unsur pimpinan kampus, akademisi, serta komunitas literasi se-Kota Parepare. Hadir langsung Rektor IAIN Parepare Prof. Dr. Hannani, M.Ag., didampingi Ketua Senat IAIN Parepare Prof. Dr. Sitti Aminah, M.Ag., Wakil Rektor I Dr. H. Saepudin, S.Ag., M.Pd., serta Wakil Rektor III Dr. Muhammad Ali Rusdi.
Turut hadir Ketua LP2M Dr. Muhammad Haramain, Sekretaris LP2M Muhammad Majdy Amiruddin, M,MA., Kepala Perpustakaan IAIN Parepare Sirajuddin,M.I.P., Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Parepare Drs. H. Ahmad, para Kepala Pusat di lingkup LP2M, serta para pegiat literasi dari berbagai komunitas di Kota Parepare.

Dalam sambutannya, Kepala Pusat Publikasi dan Penerbitan, Suhartina, menegaskan bahwa IPN Press kini telah bertransformasi menjadi instrumen strategis kampus dalam membangun tradisi intelektual.
“Kita tidak bisa terus menyimpan pengetahuan di ruang kelas. Gagasan harus keluar, diuji, dan dibaca. IPN Press adalah ‘senjata’ kita bekerja dalam diam, tetapi berdampak luas. Inilah cara kampus hadir dalam percakapan global,” tegasnya.
Ia menambahkan, ke depan IPN Press akan terus memperkuat kualitas naskah, memperluas distribusi, serta mendorong lahirnya penulis-penulis baru dari kalangan dosen dan mahasiswa.
Sementara itu, Rektor IAIN Parepare, Prof. Dr. Hannani, M.Ag., menegaskan bahwa kampus memiliki tanggung jawab untuk melahirkan karya yang berdampak luas.
“Kampus tidak cukup hanya menjadi ruang belajar. Kampus harus meninggalkan jejak, dan jejak itu adalah tulisan. IPN Press telah membuktikan bahwa IAIN Parepare mampu berbicara kepada dunia melalui karya,” ujarnya.
Rektor juga mengajak seluruh civitas academica untuk menjadikan menulis sebagai budaya, bukan sekadar kewajiban administratif.
Selain perayaan milad, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan kerja sama antara LP2M IAIN Parepare dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Parepare serta komunitas literasi. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat ekosistem literasi, memperluas jejaring publikasi, serta mendorong sinergi antara kampus dan masyarakat dalam pengembangan budaya baca-tulis.
Perayaan Milad ini turut dilengkapi dengan talkshow bertema “Menulis sebagai Jejak Peradaban: Dari Kampus untuk Dunia”, yang menghadirkan Dr. Muhammad Ali Rusdi, Dr. Muhammad Haramain, dan Dr. Rustan Efendy sebagai narasumber.
Dalam sesi tersebut, para narasumber sepakat bahwa menulis merupakan strategi penting dalam membangun pengaruh dan peradaban.
Dr. Muhammad Ali Rusdi menekankan pentingnya keberanian untuk memulai menulis, “Ide tidak akan pernah berarti jika hanya disimpan. Menulis adalah cara paling jujur untuk membuat pikiran kita hidup lebih lama.”
Dr. Muhammad Haramain menyoroti pentingnya dukungan sistem dalam membangun budaya menulis, “Budaya menulis tidak lahir dari motivasi sesaat, tetapi dari ekosistem yang terus mendorongnya.”
Sementara itu, Dr. Rustan Efendy membagikan kunci produktivitas dalam berkarya, “Menulis itu soal komitmen. Sedikit demi sedikit, tetapi konsisten. Dari situlah karya besar lahir.”
Perayaan Milad ke-7 IPN Press ini menjadi penegasan bahwa IAIN Parepare terus bergerak membangun identitas sebagai kampus yang tidak hanya berorientasi pada pengajaran, tetapi juga pada produksi dan diseminasi pengetahuan.
Dengan IPN Press sebagai “senjata baru”, IAIN Parepare menunjukkan bahwa dari daerah pun, gagasan besar dapat lahir dan menjangkau dunia.
Penulis : Tasrif
Editor : Suhartina