Humas IAIN Parepare — Suasana berbeda tampak di peringatan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia ke-80 di IAIN Parepare. Dapur yang biasanya identik dengan kerja domestik perempuan, kali ini dipenuhi oleh para bapak yang memimpin regu dalam lomba memasak makanan tradisional.
Beberapa di antaranya adalah Ketua LP2M IAIN Parepare Dr. Muhammad Haramain, Wakil Dekan FUAD Dr. Iskandar, serta Muh. Ismail dari Ma’had Al Jamiah. Dengan peralatan masak di tangan, mereka tampil penuh semangat, bekerja sama dengan anggota timnya dalam suasana akrab dan penuh canda.
Pemandangan ini menjadi daya tarik tersendiri. Bukan hanya karena keunikan para pimpinan kampus yang turun langsung ke dapur, tetapi juga karena pesan sosial yang tersirat di dalamnya. Lomba ini menunjukkan bahwa memasak dan pekerjaan rumah tangga bukanlah tugas satu gender saja, melainkan tanggung jawab bersama.
Penanggung jawab kegiatan, Dr. Sumarni Sumai, menjelaskan bahwa lomba memasak ini tidak sekadar menjadi hiburan dalam rangka HAB Kemenag, tetapi juga membawa pesan nilai.
“Melalui kegiatan sederhana ini, kami ingin menunjukkan bahwa kerja sama, kebersamaan, dan rasa saling menghargai bisa dimulai dari hal-hal dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Selain menumbuhkan semangat kebersamaan, lomba ini juga menjadi ajang pelestarian kuliner tradisional. Beragam menu khas daerah diolah dengan kreativitas dan sentuhan inovasi, memperlihatkan kekayaan pangan lokal yang patut dijaga bersama.
Sorak tawa, kerja tim, dan dialog ringan antarpeserta menjadikan lomba ini lebih dari sekadar kompetisi, lomba yang sederhana dapat menjelma menjadi peristiwa sosial yang menghangatkan relasi antarsivitas akademika, sekaligus menegaskan bahwa Islam dan nilai-nilai keindonesiaan yang dijunjung Kementerian Agama sejalan dengan prinsip keadilan dan kemanusiaan.
Melalui lomba memasak makanan tradisional ini, IAIN Parepare tidak hanya merayakan HAB Kemenag ke-80, tetapi juga menyampaikan pesan sunyi namun kuat: perubahan sosial kerap dimulai dari ruang-ruang kecil, dari aktivitas sehari-hari, dan dari keberanian untuk mendefinisikan ulang peran yang selama ini dianggap “biasa”.
Ketua Panitia HAB Kemenag ke-80 IAIN Parepare, Sunandar, menuturkan bahwa lomba memasak makanan tradisional ini dirancang sebagai bagian dari upaya menghadirkan peringatan HAB yang lebih inklusif, edukatif, dan membumi. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk memeriahkan acara, tetapi juga untuk menghadirkan refleksi sosial yang relevan dengan kehidupan sehari-hari sivitas akademika. “Kami ingin HAB tidak sekadar seremonial, tetapi memberi ruang pada pesan-pesan nilai yang bisa dirasakan langsung oleh seluruh peserta,” ujarnya.
Sunandar menambahkan, keterlibatan para pimpinan dan dosen dalam aktivitas yang sederhana namun sarat makna ini menunjukkan bahwa kepemimpinan juga dapat ditampilkan melalui keteladanan dan kebersamaan. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat memperkuat ikatan emosional antarunit di IAIN Parepare serta menumbuhkan budaya saling menghargai dan bekerja sama. “Dari dapur sederhana ini, kami belajar bahwa kebersamaan, kesetaraan peran, dan kepedulian sosial adalah fondasi penting dalam membangun kampus yang humanis dan berkeadaban,” pungkasnya.