Skip ke Konten

Ketua Prodi PAI IAIN Parepare: Ramadan Melampaui Ritual Menuju Universalitas Kemanusiaan

4 Maret 2026 oleh
Humas IAIN Parepare
Humas IAIN Parepare—Mimbar Masjid Al-Wasilah IAIN Parepare menjadi ruang refleksi intelektual dalam kegiatan kultum setelah salat Dzuhur, Selasa, 13 Ramadan 1447 H. Pada kesempatan tersebut, Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah, Dr. Rustan Efendy, M.Pd., menyampaikan uraian komprehensif mengenai makna ibadah puasa dalam perspektif kemanusiaan universal.

Di hadapan pimpinan, guru besar, dosen, serta civitas academica lintas disiplin, Dr. Rustan menegaskan bahwa Ramadan tidak hanya dipahami sebagai kewajiban ritual individual, tetapi juga sebagai institusi spiritual yang memiliki orientasi sosial dan kemanusiaan. Menurutnya, puasa mengandung visi transformatif yang melampaui formalitas hukum menuju penguatan etika sosial.

Ia menjelaskan bahwa praktik keagamaan yang substansial tidak berhenti pada aspek normatif, melainkan harus terwujud dalam dimensi fungsional dan sosial. Tanpa pemaknaan tersebut, ibadah berpotensi tereduksi menjadi aktivitas seremonial yang hanya menyisakan pengalaman fisik tanpa perubahan moral dan sosial.

Dalam paparannya, Dr. Rustan juga mengaitkan spirit Ramadan dengan dinamika global yang diwarnai konflik dan krisis kemanusiaan. Ia merujuk pada pandangan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, yang kerap menyerukan pentingnya solidaritas, perdamaian, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Rujukan tersebut menegaskan bahwa nilai-nilai Ramadan memiliki relevansi universal dalam membangun kesadaran kolektif lintas agama dan bangsa.

Lebih lanjut, ia membedakan antara partikularitas syariat sebagai batas formal hukum dan universalitas nilai sebagai orientasi substansial. Dalam kerangka ini, puasa dipahami sebagai latihan pengendalian diri yang bermuara pada pembentukan karakter sosial. Konsep takwa, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan relasi vertikal manusia dengan Tuhan, tetapi juga terejawantah dalam relasi horizontal antarsesama.

Indikator keberhasilan puasa, tegasnya, tercermin dalam kemampuan mengelola emosi, memperkuat kepedulian sosial, menumbuhkan sikap dermawan, serta mengedepankan sikap pemaaf sebagai bagian dari penyelesaian konflik. Dengan demikian, Ramadan menjadi ruang pembelajaran etis yang konkret dan aplikatif.

Kegiatan tersebut menegaskan fungsi masjid kampus sebagai pusat integrasi antara spiritualitas dan intelektualitas. Bagi civitas academica IAIN Parepare, Ramadan diharapkan tidak sekadar menjadi agenda tahunan yang bersifat seremonial, melainkan momentum refleksi untuk mengaktualisasikan nilai-nilai kasih sayang dan kemanusiaan dalam praktik kehidupan sosial.

Melalui pemaknaan yang komprehensif ini, Ramadan diposisikan sebagai laboratorium spiritual, ruang pembinaan batin yang mendorong lahirnya empati dan tanggung jawab sosial. Dari ruang ibadah inilah nilai kemanusiaan universal diharapkan tumbuh dan memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan bersama.

Kontributor  : Tasrif

Editor  ​  : Sri Rahayu 

di dalam Berita
UPZ IAIN Parepare Salurkan Dana Zakat Pegawai untuk 54 Mahasiswa