Skip ke Konten

Khutbah di Masjid Al-Markaz, Rektor IAIN Parepare Serukan Penguatan Tauhid dan Ketahanan Keluarga Digital

27 Februari 2026 oleh
Humas IAIN Parepare

Humas IAIN --- Rektor IAIN Parepare menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Al-Markaz Al-Islami, Makassar, Jumat (27/2/2026) bertepatan dengan 9 Ramadan 1447 H. Kehadirannya sebagai khatib di salah satu masjid terbesar di Indonesia Timur tersebut menjadi bagian dari komitmen pengabdian kepada umat yang terus dihadirkan pimpinan perguruan tinggi keagamaan Islam.

Dalam khutbahnya, Rektor mengajak jamaah untuk memperbarui iman melalui kalimat la ilaha illallah serta memperkuat ketahanan keluarga di tengah tantangan era digital.

Mengawali khutbah, ia menegaskan bahwa Ramadan merupakan momentum penyucian diri dan peningkatan kualitas ketakwaan. Menurutnya, pembaruan iman bukan sekadar rutinitas lisan, melainkan kesadaran mendalam yang membentuk cara pandang hidup seorang muslim.

“Perbaharuilah iman kalian dengan memperbanyak membaca la ilaha illallah. Kalimat ini bukan sekadar lafaz, tetapi fondasi cara pandang hidup seorang muslim. Kita shalat karena Allah, bekerja meyakini rezeki dari Allah, dan menuntut ilmu dengan kesadaran bahwa ilmu berasal dari Allah,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia menekankan bahwa tauhid harus menjadi orientasi dalam seluruh aktivitas kehidupan agar keimanan tidak berhenti pada simbol, tetapi melahirkan karakter, integritas, dan tanggung jawab moral.

Selain pesan spiritual, Rektor juga menyoroti fenomena sosial yang mengemuka dalam kehidupan keluarga modern, yakni kehadiran fisik tanpa keterlibatan emosional akibat dominasi gawai.

“Bapak dengan gadgetnya, ibu dengan gadgetnya, anak-anak dengan dunianya sendiri. Kita ada di rumah, tetapi sejatinya tidak benar-benar hadir,” ungkapnya.

Menurutnya, jika kondisi tersebut terus dibiarkan, komunikasi dan adab dalam keluarga dapat melemah. Dampak lanjutannya adalah lahirnya generasi yang rapuh secara mental dan spiritual karena kurangnya interaksi hangat dan dialog bermakna di lingkungan keluarga.

Rektor mengajak para orang tua menjadikan Ramadan sebagai momentum membangun kembali kehangatan keluarga. Waktu berbuka puasa, katanya, perlu dimanfaatkan sebagai ruang dialog, nasihat, dan kebersamaan tanpa distraksi digital.

Ia juga mengutip QS. At-Tahrim ayat 6 tentang kewajiban menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Tanggung jawab tersebut, tegasnya, tidak hanya mencakup aspek jasmani, tetapi juga penjagaan akal, hati, dan spiritualitas anggota keluarga.

Selain itu, ia menyinggung dimensi kesehatan dalam ibadah puasa. Ramadan dipandang sebagai latihan pengendalian diri, termasuk dalam pola makan dan disiplin hidup.

“Puasa bukan ajang balas dendam saat berbuka, tetapi latihan pengendalian diri agar kita menjadi pribadi yang sehat secara jasmani dan rohani,” tegasnya.

Kehadiran Rektor sebagai khatib dinilai sebagai wujud nyata peran perguruan tinggi dalam menjawab persoalan umat. Ia menegaskan bahwa kampus tidak boleh terpisah dari denyut kehidupan masyarakat.

Melalui mimbar dakwah, nilai-nilai akademik dan spiritualitas Islam diintegrasikan dalam ruang publik sebagai bentuk tanggung jawab moral dan sosial lembaga pendidikan tinggi keagamaan.

Khutbah tersebut mendapat perhatian serius dari jamaah yang memadati masjid. Pesan yang disampaikan dinilai relevan dengan tantangan sosial masyarakat kontemporer, khususnya dalam menjaga ketahanan keluarga di tengah arus digitalisasi yang kian masif.



Kontributor : Tasrif

Editor ​: Suherman

di dalam Berita
Pascasarjana IAIN Parepare Matangkan PMB S2 dan Akselerasi Pembukaan S3