Humas IAIN Parepare — Pengelola Beasiswa KIP Kuliah IAIN Parepare menggelar proses seleksi lanjutan melalui wawancara intensif terhadap 85 mahasiswa calon pengganti penerima KIP Kuliah. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 25–26 Februari 2026, di Gedung Rektorat bagian Academic Center ini bertujuan untuk memastikan bantuan pendidikan tepat sasaran.
Proses seleksi ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan respons cepat pihak kampus terhadap hasil evaluasi setiap semester. Pasalnya, terdapat 15 posisi penerima KIP Kuliah sebelumnya yang dinyatakan gugur dan harus segera digantikan agar penyaluran bantuan tetap optimal.
Penyebab pergantian belasan penerima tersebut cukup beragam. Salah satu faktor utama ialah capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang berada di bawah standar minimum. Selain kendala akademik, beberapa mahasiswa penerima sebelumnya diketahui tidak lagi aktif mengikuti perkuliahan karena berbagai alasan, mulai dari keputusan menikah hingga pertimbangan personal lainnya sehingga tidak lagi memenuhi kriteria sebagai penerima aktif.
Kepala Subbagian Layanan Akademik IAIN Parepare, Abdul Hamid, S.Kom., M.Pd., menegaskan bahwa seleksi dilakukan secara menyeluruh. Selain verifikasi kondisi ekonomi, aspek karakter dan kesesuaian dengan identitas kampus menjadi poin penting dalam penilaian.
“Dalam wawancara ini terdapat tes mengaji sebagai ciri khas kampus keislaman, komitmen menaati aturan, serta kesiapan mahasiswa berkontribusi dalam mempromosikan kampus. Kami mencari penerima yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki loyalitas,” ujar Abdul Hamid.


Materi wawancara tidak hanya berfokus pada verifikasi administrasi dan kondisi ekonomi keluarga. Sebagai institusi berbasis keislaman, IAIN Parepare menyertakan tes membaca Al-Qur’an sebagai salah satu indikator penilaian. Langkah ini dilakukan untuk memastikan setiap penerima beasiswa memiliki kompetensi dasar keagamaan yang sejalan dengan identitas institusi.
Selain itu, tim penguji juga menggali komitmen mahasiswa dalam menaati seluruh regulasi KIP Kuliah. Aspek loyalitas turut diuji melalui pertanyaan mengenai kesiapan mahasiswa untuk berkontribusi aktif dalam mempromosikan kampus kepada masyarakat luas. Pihak pengelola menginginkan mahasiswa terpilih memiliki rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat terhadap IAIN Parepare.
“Kami ingin penerima KIP tidak hanya aktif secara akademik, tetapi juga memiliki loyalitas dan tanggung jawab. Komitmen menjaga nama baik kampus menjadi poin penting dalam penilaian,” tegas Abdul Hamid.
Melalui wawancara ini, Pengelola Beasiswa KIP Kuliah berharap dapat menetapkan nama-nama penerima pengganti yang benar-benar layak, gigih, dan berintegritas. Harapannya, program KIP Kuliah di lingkungan IAIN Parepare dapat terus berjalan optimal, memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan, serta melahirkan lulusan yang mampu membanggakan almamater.
Penulis : Nur Aeny K
Editor : Sri Rahayu