Humas IAIN Parepare – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare terus memperkuat budaya riset di lingkungan kampus dengan menyelenggarakan kegiatan Penguatan Metodologi Penelitian pada 9–10 Maret 2026 secara hibrida. Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis kampus dalam mendorong lahirnya penelitian berkualitas yang tidak hanya produktif secara akademik, tetapi juga memiliki dampak nyata bagi masyarakat.
Rektor IAIN Parepare, Prof. Hannani, menegaskan bahwa metodologi merupakan fondasi utama dalam menghasilkan riset yang berkualitas dan relevan. Menurutnya, penelitian di perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai dokumen akademik semata, tetapi harus mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan solusi bagi persoalan sosial.
“Metodologi yang kuat akan mengantarkan peneliti pada kebaruan dan temuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Karena itu, penguatan kapasitas metodologis menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas riset dosen,” ujar Prof. Hannani.
Ia juga menekankan bahwa penelitian merupakan bagian penting dari pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, yang berperan memperkaya proses pembelajaran di kelas melalui temuan-temuan ilmiah terbaru.
Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Parepare, Dr. Muhammad Haramain, menyampaikan bahwa peningkatan kualitas riset dosen memiliki hubungan langsung dengan reputasi institusi di tingkat nasional maupun internasional.
Menurutnya, pada tahun 2026 terdapat 64 judul penelitian dosen yang berhasil lolos tahap seleksi administrasi dan berlanjut ke tahap seminar proposal. Dari jumlah tersebut, 136 dosen terlibat aktif sebagai tim peneliti.
“Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang melibatkan 125 dosen. Jika dibandingkan dengan total 223 dosen di IAIN Parepare, berarti lebih dari 60 persen dosen aktif melakukan penelitian tahun ini,” jelasnya.
Ia menilai tingkat partisipasi tersebut menunjukkan semakin kuatnya kultur riset di lingkungan kampus.
Dukungan tersebut juga tercermin dari alokasi pendanaan penelitian sebesar Rp1,7 miliar yang bersumber dari Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN). Anggaran ini disiapkan untuk mendukung berbagai kegiatan penelitian dosen, mulai dari pengumpulan data lapangan hingga publikasi hasil riset pada jurnal bereputasi.
“Kami sangat mengapresiasi komitmen pimpinan kampus yang memberikan dukungan pendanaan yang cukup besar untuk pengembangan riset dosen,” tambah Haramain.
Kepala Pusat Penelitian IAIN Parepare, Zulfiqar Busrah, menjelaskan bahwa proses seleksi proposal dilakukan secara objektif dan transparan dengan melibatkan 8 reviewer eksternal dari berbagai perguruan tinggi Islam negeri.
Para reviewer tersebut berasal dari UIN Alauddin Makassar, UIN Palopo, IAIN Kendari, IAIN Bone, dan IAIN Sultan Amai Gorontalo.
“Keterlibatan reviewer eksternal dilakukan untuk memastikan kualitas proposal yang didanai benar-benar memiliki metodologi yang kuat dan potensi dampak yang besar,” jelasnya.
Menurut Zulfiqar, proses penilaian dilakukan secara ketat dengan menilai berbagai aspek, mulai dari ketajaman rumusan masalah, kekuatan kajian pustaka, kerangka teori, hingga kebaruan metodologi yang ditawarkan.
Selain menjamin kualitas penelitian, keterlibatan reviewer dari berbagai kampus juga membuka peluang kolaborasi riset antarlembaga perguruan tinggi keagamaan Islam negeri.
Melalui langkah ini, IAIN Parepare menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem riset yang kolaboratif, inovatif, dan berdampak bagi pengembangan keilmuan serta masyarakat luas.
Penulis : Irmawati
Editor : Suhartina