Humas IAIN Parepare -- Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan (APK) IAIN Parepare, Dr. H. Saepudin, M.Pd., menegaskan pentingnya penguatan kurikulum yang responsif terhadap isu strategis global dan nasional.
Ia mendorong agar muatan moderasi beragama, kurikulum cinta, Sustainable Development Goals (SDGs), perspektif gender, kearifan lokal, serta akulturasi ekonomi syariah terintegrasi secara terukur dalam mata kuliah yang relevan.
Menurutnya, integrasi tersebut harus dilakukan secara proporsional dan berbasis pemetaan akademik yang jelas agar implementasinya dapat diukur dan dievaluasi.
“Perlu dipilih mata kuliah mana yang lebih kuat nuansa SDGs, gender, atau kearifan lokal dan akulturasi ekonomi syariahnya. Jika semuanya dimasukkan ke semua mata kuliah, justru sulit diukur,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan SDGs penting karena mahasiswa adalah generasi penentu arah pembangunan bangsa. Kampus harus menanamkan kesadaran terhadap isu kemiskinan, ketimpangan, perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan agar lahir lulusan yang kompeten sekaligus memiliki tanggung jawab sosial.
Penegasan tersebut disampaikan dalam Rapat Akademik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang digelar di Lantai 5 Gedung Perpustakaan IAIN Parepare, Rabu (11/2/2026), dan dihadiri pimpinan rektorat, pimpinan fakultas, serta dosen FEBI.
Dalam arahannya, Wakil Rektor I juga menekankan konsistensi pelaksanaan perkuliahan sebagai prasyarat menjaga mutu akademik. Perkuliahan semester ini secara resmi dimulai pada 23 Februari 2026.
Ia menyampaikan bahwa seluruh dosen wajib mematuhi jadwal akademik. Jika terdapat kebijakan libur menjelang Idul Fitri, hal tersebut akan diumumkan melalui surat edaran resmi pimpinan.
Wakil Rektor I mengingatkan bahwa jadwal mengajar dosen berbeda dengan jam kerja ASN. Meski terdapat toleransi selama Ramadan, substansi pembelajaran tidak boleh dikurangi.
Selain soal jadwal, ia menyoroti penguatan implementasi Outcome-Based Education (OBE). Pengelolaan akademik tidak cukup hanya memastikan mata kuliah terinput dalam sistem, tetapi juga harus menjamin kualitas dan keterpaduan Rencana Pembelajaran Semester (RPS).
Menurutnya, Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), CPMK, strategi pembelajaran, dan metode evaluasi harus tersusun logis dan saling terhubung agar tidak terjadi ketidaksinkronan antara target kompetensi dan praktik pembelajaran.
Untuk mendukung hal tersebut, rektorat membentuk tim penguatan OBE di tingkat fakultas yang melibatkan dosen muda dengan pendampingan ahli desain pembelajaran, serta mendorong penetapan koordinator mata kuliah dan penerapan Project-Based Learning sebagai model percontohan.
Melalui konsistensi jadwal, penguatan OBE, dan integrasi nilai moderasi serta keberlanjutan, pimpinan IAIN Parepare berharap FEBI semakin adaptif, relevan, dan berdaya saing dalam menjawab tantangan pendidikan tinggi Islam.
Kontributor : Tasrif
Editor : Suherman