Humas IAIN Parepare– Bursa penjaringan Bakal Calon Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare periode 2026–2030 resmi ditutup. Direktur Pascasarjana IAIN Parepare, Islamul Haq, menjadi pendaftar keempat sekaligus terakhir yang menyerahkan berkas pendaftaran di Gedung Rektorat pada, Senin (12/1/2026). Penyerahan berkas tersebut menandai berakhirnya tahapan pendaftaran calon pimpinan kampus dengan nada santai namun penuh percaya diri.
Dalam keterangan persnya, Islamul Haq menyampaikan permohonan maaf karena menjadi pendaftar terakhir karena berkasnya baru rampung di hari yang sama. Menariknya, ia berkelakar bahwa dalam banyak kisah, tokoh yang muncul terakhir kerap menjadi sosok yang paling kuat. Kehadirannya ditegaskan sebagai representasi penting dari generasi baru di lingkungan kampus. “Saya maju sebagai bakal Calon Rektor IAIN Parepare saya mewakili kaum muda yang ada di IAIN Parepare,” ujarnya dengan mantap.
Islamul Haq menilai bahwa saat ini IAIN Parepare sudah berada di jalur yang tepat (on the track) menuju kampus idaman. Keberhasilan institusi meraih akreditasi "Unggul" serta capaian 15 program studi yang juga terakreditasi "Unggul" menjadi bukti nyata kekuatan lembaga ini. Selain itu, prestasi di bidang digital melalui Anugerah Best Digital University dan peringkat SINTA nasional menunjukkan bahwa IAIN Parepare telah sejajar dengan PTKIN raksasa lainnya di Indonesia.
Meskipun memuji capaian saat ini, Islamul menekankan bahwa tantangan ke depan adalah konsistensi pada kualitas pembelajaran dan internasionalisasi yang berkelanjutan. Ia bertekad untuk memastikan bahwa profil lulusan IAIN Parepare benar-benar relevan dengan kompetensi yang ditawarkan di pasar kerja. Ia mencontohkan, lulusan dari program studi hukum harus diarahkan secara nyata menjadi hakim, pengacara, serta praktisi hukum profesional yang kompeten di bidangnya.
Selain kualitas lulusan, fokus utama yang ditawarkan Islamul Haq adalah pelayanan prima bagi seluruh pemangku kepentingan. Hal ini mencakup layanan terbaik bagi mahasiswa, dosen, orang tua, hingga mitra kerja sama institusi. Baginya, budaya mutu dan pelayanan yang baik adalah fondasi utama agar kampus tidak hanya besar secara angka, tetapi juga kuat secara karakter dan kepuasan layanan di tingkat nasional maupun internasional.
Berbekal pengalaman memimpin Pascasarjana selama dua tahun terakhir, Islamul memamerkan rekam jejak yang signifikan sebagai modal kepemimpinannya. Di bawah arahannya, jumlah mahasiswa pascasarjana melonjak dari 300 menjadi hampir 800 orang. Tidak hanya soal kuantitas, ia juga berhasil menghidupkan budaya akademik produktif melalui rekor pengiriman 150 artikel ilmiah dalam satu waktu serta lahirnya sekitar 200 Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dalam setahun terakhir.
Melalui visi kepemudaan dan budaya akademik yang produktif, Islamul Haq berharap IAIN Parepare dapat bertransformasi menjadi perguruan tinggi yang berjaya di kancah dunia. Ia berkomitmen membawa semangat budaya menulis dan budaya mutu yang telah dibangunnya di Pascasarjana ke level universitas secara lebih luas. "Nah, itu yang mau kita bangun, bagaimana budaya menulis, dan budaya mutu terbangun di IAIN Parepare," pungkasnya optimis menutup sesi pendaftaran tersebut. (irm/mif)
Dalam keterangan persnya, Islamul Haq menyampaikan permohonan maaf karena menjadi pendaftar terakhir karena berkasnya baru rampung di hari yang sama. Menariknya, ia berkelakar bahwa dalam banyak kisah, tokoh yang muncul terakhir kerap menjadi sosok yang paling kuat. Kehadirannya ditegaskan sebagai representasi penting dari generasi baru di lingkungan kampus. “Saya maju sebagai bakal Calon Rektor IAIN Parepare saya mewakili kaum muda yang ada di IAIN Parepare,” ujarnya dengan mantap.
Islamul Haq menilai bahwa saat ini IAIN Parepare sudah berada di jalur yang tepat (on the track) menuju kampus idaman. Keberhasilan institusi meraih akreditasi "Unggul" serta capaian 15 program studi yang juga terakreditasi "Unggul" menjadi bukti nyata kekuatan lembaga ini. Selain itu, prestasi di bidang digital melalui Anugerah Best Digital University dan peringkat SINTA nasional menunjukkan bahwa IAIN Parepare telah sejajar dengan PTKIN raksasa lainnya di Indonesia.
Meskipun memuji capaian saat ini, Islamul menekankan bahwa tantangan ke depan adalah konsistensi pada kualitas pembelajaran dan internasionalisasi yang berkelanjutan. Ia bertekad untuk memastikan bahwa profil lulusan IAIN Parepare benar-benar relevan dengan kompetensi yang ditawarkan di pasar kerja. Ia mencontohkan, lulusan dari program studi hukum harus diarahkan secara nyata menjadi hakim, pengacara, serta praktisi hukum profesional yang kompeten di bidangnya.
Selain kualitas lulusan, fokus utama yang ditawarkan Islamul Haq adalah pelayanan prima bagi seluruh pemangku kepentingan. Hal ini mencakup layanan terbaik bagi mahasiswa, dosen, orang tua, hingga mitra kerja sama institusi. Baginya, budaya mutu dan pelayanan yang baik adalah fondasi utama agar kampus tidak hanya besar secara angka, tetapi juga kuat secara karakter dan kepuasan layanan di tingkat nasional maupun internasional.
Berbekal pengalaman memimpin Pascasarjana selama dua tahun terakhir, Islamul memamerkan rekam jejak yang signifikan sebagai modal kepemimpinannya. Di bawah arahannya, jumlah mahasiswa pascasarjana melonjak dari 300 menjadi hampir 800 orang. Tidak hanya soal kuantitas, ia juga berhasil menghidupkan budaya akademik produktif melalui rekor pengiriman 150 artikel ilmiah dalam satu waktu serta lahirnya sekitar 200 Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dalam setahun terakhir.
Melalui visi kepemudaan dan budaya akademik yang produktif, Islamul Haq berharap IAIN Parepare dapat bertransformasi menjadi perguruan tinggi yang berjaya di kancah dunia. Ia berkomitmen membawa semangat budaya menulis dan budaya mutu yang telah dibangunnya di Pascasarjana ke level universitas secara lebih luas. "Nah, itu yang mau kita bangun, bagaimana budaya menulis, dan budaya mutu terbangun di IAIN Parepare," pungkasnya optimis menutup sesi pendaftaran tersebut. (irm/mif)