Humas IAIN Parepare -- Kamis, 4 Desember 2025, ruang Balai Seni IAIN Parepare seperti berubah menjadi jeda spiritual di tengah ritme akademik yang biasanya riuh oleh tugas, presentasi, dan pertemuan dosen. Siang itu, tidak ada denting proyektor. Tidak ada tabel dan grafik. Yang hadir adalah zikir, puisi, dan keheningan yang membuat orang ingin menarik napas lebih panjang.
Mereka datang berbaris rapi: dosen, tenaga kependidikan, dan ratusan mahasiswa. Semuanya menunggu seorang sosok yang selama ini lebih sering mereka temui lewat buku pelajaran, nama yang identik dengan larik-larik puitik dan kesunyian Madura: KH. D. Zawawi Imron.
Di bawah tema “Zikir dan Puisi untuk Negeri: Merajut Spiritual dan Budaya, Meneguhkan Persaudaraan Bangsa”, acara itu terasa seperti upaya kecil namun tulus untuk mengembalikan manusia kepada dirinya. Dalam sentuhan KH Zawawi, puisi bukan sekadar seni; ia adalah jalan pulang.
Kedatangan penyair berusia 80 tahun itu disambut hangat oleh Rektor IAIN Parepare Prof. Dr. Hannani, M.Ag., bersama Wakil Rektor II, Dr. Firman, Dekan FUAD Dr. A. Nurkidam, Ketua Prodi PMI Dr. Afidatul Asmar, dan jajaran pimpinan kampus. Wali Kota Parepare diwakili Kepala Dinas Perpustakaan Parepare, H. Ahmad Masdar, M.Si. Kehadiran Dompet Dhuafa menambah warna acara, terlebih karena Andi Makmur Makka, pembina Dompet Dhuafa sekaligus penulis senior yang pernah mengurusi 64 judul buku tentang B.J. Habibie, turut hadir.
HMPS PMI yang menjadi penyelenggara tampak bergerak lincah. Namun selebihnya, suasana seperti digerakkan oleh sesuatu yang tak kasat mata: semacam ruang perenungan yang tumbuh natural di antara antrean kursi dan panel-panel kayu Balai Seni IAIN Parepare.
Sesudah sambutan singkat, pegiat literasi, Ahmad Kohawan naik ke panggung. Suaranya tenang ketika membaca puisi “Ibu", karya KH Zawawi Imron yang hampir semua pelajar Indonesia pernah temui, tetapi jarang sungguh-sungguh direnungi. Larik-larik itu mengambang di udara, seolah memanggil setiap orang kembali ke pangkuan perempuan pertama yang mengajarkan makna cinta dan kesunyian.
Hening yang tercipta seolah membuka jalan bagi kedatangan sang maestro.
KH. Zawawi Imron duduk di atas panggung, tetapi auranya mengisi seluruh ruangan. Dengan suara yang menyimpan jejak masa muda dan debu perjalanan panjang, ia membuka perjumpaan itu dengan kalimat yang seperti dicatat dari pengalaman hidupnya sendiri.
“Zikir kepada Allah Swt bukan sekadar ritual,” ucapnya perlahan. “Itu rumah bagi jiwa kita. Dan selawat kepada Rasulullah Muhammad Saw, adalah cara menjaga hati tetap hidup.”
Ia lalu memandu hadirin melantunkan nasyid, Ya nabi salam padamu,
Ya rasul salam padamu,
Kekasih salam padamu,
Selawat selalu untukmu.
Suara itu bergulung pelan, mengubah Balai Seni menjadi majelis kecil yang tak dibuat-buat. Sederhana, tetapi menenangkan.
KH Zawawi kemudian membaca puisi “Marabombang”, yang diilhami kampung kecil di Suppa, Pinrang. Lokasinya dekat Parepare, sehingga hadirin seperti ikut terseret ke suasana pesisir yang diceritakannya. Sebelum membaca, ia menyinggung falsafah Bugis:
“Pura babbara’ sompekku, pura tangkisi’ golikku, ulebbirenni tellengé nato’walié.”
Bahwa lebih baik tenggelam saat berlayar daripada kembali sebelum berjuang.
Ia menyampaikan itu bukan sebagai petuah kosong, tetapi sebagai cara melihat hidup: berani, tegak, dan setia pada pelayaran masing-masing.
Di sela-sela puisi, ia mengingatkan mahasiswa tentang hormat kepada orang tua dan guru.
“Guru dan dosen itu pahlawan,” ujarnya. “Doakan mereka, maka ilmu kalian akan menjadi berkah.”
Kalimat itu sederhana, tetapi mengguncang ruang akademik yang kadang lupa bahwa keilmuan bukan hanya tentang kecerdasan, tetapi juga tentang kesantunan.
Sesekali, ia melontarkan kalimat yang membuat hadirin tertawa ringan atau mengangguk cepat. Yang paling memantik tepuk tangan panjang adalah ketika ia berkata:
“Dunia ini tak lengkap kalau tidak ada Indonesia. Dan Indonesia tak lengkap kalau tidak ada Parepare.”
Ruangan sontak riuh. Bagi Zawawi, itu bukan basa-basi. Ia menjelaskan bahwa setiap kota adalah sepotong cahaya kebudayaan, dan Parepare adalah salah satu cahaya itu, tempat yang memelihara tradisi intelektual di pesisir.
Siang itu, Balai Seni IAIN Parepare menjadi saksi bagaimana zikir dan puisi menyusun ruang hening yang tidak mengasingkan, tetapi merangkul. Para mahasiswa, yang biasanya terburu-buru mengejar kelas atau rapat organisasi, duduk lebih lama dari biasanya. Ada jeda batin yang tumbuh, sesuatu yang jarang mereka temukan di tengah ritme kuliah.
Di tangan Zawawi Imron, spiritualitas bukan dipaksakan, tetapi dirayakan. Budaya tidak dipisahkan dari agama, tetapi dibiarkan menyatu seperti tanah dan hujan.
Dan pada hari itu, di sebuah kampus di pesisir Sulawesi Selatan, zikir, puisi, dan pengalaman budaya bersatu membentuk sesuatu yang sulit didefinisikan, tetapi mudah dirasakan.
Sebuah jeda. Sebuah rumah kecil bagi jiwa. Sebuah siang yang ingin disimpan lama-lama dalam ingatan. (*)
Penulis : Alfiansyah Anwar