Hari Guru selalu menjadi ruang sunyi yang menuntun saya kembali menoleh jauh ke belakang ke masa-masa yang pelan namun menentukan arah hidup saya. Setiap tahun, tanggal ini bukan sekadar momentum seremonial, melainkan jendela memori yang kembali terbuka, membawa saya pada dua fase pendidikan paling membekas dalam hidup: masa belajar di MTs DDI Pattojo dan masa mondok di Pondok Pesantren DDI Mangkoso. Dari dua tempat sederhana itulah fondasi hidup saya dibentuk, karakter saya ditempa, dan cahaya pengetahuan menyalakan jalan panjang yang saya lalui hingga hari ini.
Pattojo: Sekolah Sederhana yang Mengajarkan Makna Ketulusan
Saya masih dapat merasakan kembali perjalanan menuju sekolah dari Lajoa mengayuh sepeda di pagi buta, berjalan bersama teman-teman melewati jalan tanah, atau duduk di boncengan motor bapak yang kala itu menjabat sebagai kepala sekolah. Dalam perjalanan sederhana yang saya anggap rutinitas, ternyata tersimpan nilai besar yang baru saya pahami belasan tahun kemudian: tanggung jawab, ketekunan, dan cinta terhadap dunia pendidikan.
MTs DDI Pattojo pada masa itu jauh dari kata ideal. Ruang kelas sederhana, fasilitas terbatas, sarana belajar seadanya. Tetapi di balik segala keterbatasan, para guru memberi sesuatu yang jauh lebih berharga daripada teknologi dan kelengkapan fasilitas: ketulusan.
Saya masih mengingat jelas bagaimana Pak Amrullah, guru olahraga kami, melatih kami di bawah terik matahari atau hujan sekalipun. Lapangan becek tidak pernah menghalangi semangat beliau. Nafas kami terengah, baju kami basah, tetapi ketulusan beliau menular begitu kuat. Beliau mengajarkan bahwa ketangguhan bukan dibentuk oleh tempat nyaman, tetapi oleh kesungguhan yang tidak pernah menyerah.
Dari Ustadz Sennureng, saya belajar fiqh dan adab yang melekat sampai kini. Pelajaran tentang bersuci, tentang menghargai rezeki, bahkan tentang tata cara memotong ayam semuanya disampaikan bukan sekadar sebagai ilmu, tetapi sebagai nilai hidup. Ilmu yang membumi dan menyatu dengan kehidupan.
Ada pula Ibu Intang dan Ibu A. Nikmah, dua guru Bahasa Inggris yang mengajarkan kata demi kata dengan kesabaran luar biasa. Di tengah metode sederhana dan gaya bicara lembut, justru tersimpan kedalaman keteladanan. Dari mereka saya belajar bahwa mengajar tidak selalu harus lantang; kadang ketenangan justru lebih kuat menembus hati siswa. Ibu Samsu, guru PMP kami, melengkapi perjalanan itu dengan nilai-nilai moral yang terus menjadi jangkar dalam setiap pekerjaan yang saya lakukan hari ini.
Pattojo mungkin hanya sekolah kecil, tetapi dari para guru itulah saya mengenal apa itu keikhlasan, dedikasi, dan cinta terhadap ilmu.
Mangkoso: Dari Gubuk Sederhana Lahir Keteguhan Jiwa
Tahun 1989 menjadi titik awal perjalanan saya memasuki dunia pendidikan pesantren. Pondok Pesantren DDI Mangkoso pada masa itu jauh berbeda dengan wajah pesantren hari ini. Jalan belum mulus, kendaraan jarang, listrik terbatas, dan beberapa area gelap pada malam hari. Namun itulah ruang perjuangan yang indah: tempat di mana jiwa diteguhkan dan ilmu dikukuhkan dengan kesabaran.
Saya memulai dari kelas persiapan (I’dadiyah), kemudian melanjutkan ke Madrasah Aliyah Tonrongnge. Awal mondok, saya dan teman-teman tinggal di bawah kolong rumah masyarakat. Dari situlah kami belajar mengatur hidup: menghemat, menghormati warga, memahami makna keberkahan kesederhanaan.
Ketika kemudian kami pindah ke Tonrongnge—sebuah bukit kecil yang waktu itu baru dijadikan lokasi mondok—tantangan semakin terasa. Kelas terbatas, fasilitas sekolah belum memadai, dan kami membangun sendiri gubuk tempat tinggal dari material seadanya. Tetapi di balik seluruh kesulitan itu, tersimpan sinar yang tak tergantikan: cahaya ilmu dari para ustadz dan murabbiy yang mengajarkan kami bukan hanya pelajaran, tetapi nilai hidup yang terus saya bawa hingga kini.
Di antara sosok yang sangat membekas adalah KH. Abd. Wahab Zakariyah, LC, MA. Beliau adalah murabbiy sejati—tegas, berwibawa, tetapi penuh kasih sayang yang terselubung. Ketegasannya bukan untuk menekan, melainkan membentuk karakter. Candanya bukan untuk mengurangi wibawa, tetapi untuk menciptakan kedekatan. Dari beliau saya belajar disiplin, adab, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu.
Ada juga Ustadz Pasieh Mustafa, ahli ilmu Nahwu yang mengajarkan kami gramatika Arab dengan ketelitian luar biasa. Beliau tidak pernah terburu-buru; setiap i’rab harus dipahami, bukan sekadar dihafal. Dari beliau saya belajar bahwa ilmu tidak mungkin dikuasai tanpa kesabaran, kejernihan, dan kerendahan hati.
Selain mereka, masih banyak wajah dan nama guru-guru yang melekat kuat dalam ingatan saya. Mereka adalah pengajar kitab kuning, pewaris tradisi keilmuan Islam klasik, pengemban amanah besar untuk menjaga warisan intelektual Islam. Mereka mungkin hidup dalam keterbatasan, tetapi jiwa mereka justru melampaui ruang dan waktu.
Buah dari Ketulusan Guru
Kini, ketika saya berdiri di hadapan mahasiswa, menyampaikan materi, memberikan arahan, atau menanamkan nilai, saya sadar bahwa apa pun yang saya miliki hari ini adalah buah dari tangan-tangan mulia para guru saya. Mereka yang mungkin tidak pernah membayangkan sejauh apa pengaruh yang mereka berikan, tetapi justru dari merekalah cahaya itu berasal. Cahaya yang lahir dari ruang-ruang sederhana, dari kelas tanpa fasilitas memadai, dari gubuk tempat belajar yang kami bangun sendiri.
Hari Guru bukan hanya tentang apresiasi, tetapi juga tentang kesadaran bahwa perjalanan hidup seseorang sering berubah karena ketulusan seorang pendidik. Saya adalah bukti kecil dari cahaya itu—cahaya yang dinyalakan oleh guru-guru di Pattojo dan Mangkoso.
Doa untuk Para Pendidik
Untuk semua guru kami, baik yang masih bersama kami maupun yang telah mendahului, kami hanya bisa membalas dengan doa:
Semoga Allah melimpahkan kesehatan, kekuatan, dan keberkahan kepada guru-guru yang masih hidup.
Semoga Allah meninggikan derajat mereka yang telah wafat, meluaskan kuburnya, dan menjadikan ilmu yang mereka ajarkan sebagai amal jariyah yang tidak pernah putus.
Dan semoga cahaya yang mereka nyalakan terus menerangi generasi demi generasi.
Karena sesungguhnya, guru-guru di Pattojo dan Mangkoso telah membuktikan bahwa cahaya tidak selalu lahir dari tempat yang megah. Kadang cahaya itu justru muncul dari ruang sempit, dari perjalanan tanpa kendaraan, dari gubuk kecil, dari lapangan becek, dan dari malam tanpa lampu—tetapi cahaya itulah yang tidak pernah padam.
Di Hari Guru ini, saya mengajak seluruh teman seangkatan untuk kembali mengenang, berterima kasih, dan mendoakan mereka. Mari kita kirimkan Al-Fatihah untuk seluruh guru yang telah membentuk kita menjadi manusia hari ini.