Oleh: Dr. Muhammad Jufri, M.Ag
Dosen dan Pencinta Kopi
Humas IAIN Parepare --- Menjelang akhir 2025, sebagai akademisi, saya merasa hidup saya lebih sering ditentukan oleh indeks kafein daripada indeks Scopus. Hari-hari terasa lebih akrab dengan cangkir kopi daripada lembar capaian kinerja. Jika hidup ini sebuah kedai kopi, maka 2025 adalah barista yang salah mengeja nama kita di gelas. Tidak rapi, tidak tepat, tetapi tetap harus dibayar mahal.
Jean-Paul Sartre pernah mengatakan bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Kutukan itu terasa sederhana namun nyata ketika kita berdiri lama di depan kasir, ragu memilih antara kopi hitam yang jujur atau minuman manis penuh topping yang tampak meyakinkan. Kebebasan memilih ternyata sering berakhir pada kegamangan, karena kita takut pada pahit yang apa adanya.
Tahun 2025 kerap terasa seperti kopi susu kekinian. Terlalu banyak gula janji dan krimer pencitraan, hingga rasa asli kopinya menghilang. Kita sibuk mengurus kemasan hidup, mengejar tampilan yang terlihat baik, sampai lupa bahwa eksistensi seharusnya memiliki daya sengat. Memasuki 2026, barangkali kita perlu belajar bersikap lebih jujur. Berani menatap pahitnya takdir tanpa pemanis tambahan, tanpa kamuflase, tanpa ilusi.
Di titik inilah tasawuf datang membawa ketenangan. Jalaluddin Rumi barangkali tidak pernah mengenal manual brew, tetapi ia sangat memahami proses pembakaran. Ia berkata bahwa hati yang tidak terbakar tidak akan bercahaya. Jika sepanjang 2025 kita merasa digiling oleh keadaan, dipanaskan oleh tekanan ekonomi, dan ditekan oleh tuntutan yang bertubi-tubi, mungkin kita sedang dipersiapkan menjadi seduhan yang lebih pekat. Tanpa tekanan yang cukup, biji kopi hanya akan menjadi serbuk yang mengapung, kehilangan karakter dan kedalaman rasa.
Ibnu ‘Arabi mengingatkan bahwa realitas hanyalah tajalli, penampakan dari Yang Satu. Maka jika kepahitan 2025 kita pandang hanya sebagai ampas yang harus dibuang, barangkali kita belum sungguh-sungguh menjadi penikmat kehidupan. Dalam pandangan tasawuf, pahit bukan untuk dihindari, melainkan untuk disadari. Ia mengingatkan kita pada kefanaan, agar kita tidak mabuk oleh manisnya ilusi dunia.
Kadang saya membayangkan Tuhan sedang melakukan cupping terhadap kesabaran kita sepanjang tahun ini. Dari proses itu, akan tampak profil rasa diri kita. Apakah kita masih menyimpan harapan yang segar, atau justru terlalu membumi hingga kehilangan daya gerak.
Slavoj Žižek mungkin akan tersenyum sinis melihat kecenderungan kita memilih kopi tanpa kafein. Bagi dia, itu gambaran hasrat manusia modern yang ingin menikmati sensasi tanpa konsekuensi. Kita menginginkan kopi tanpa pahit, keberhasilan tanpa luka, dan kesuksesan tanpa proses yang melelahkan.
Memasuki 2026, tantangan kita bukanlah mencari hidup yang sepenuhnya manis, melainkan keberanian untuk menerima pahit dengan jujur. Jika 2025 adalah proses penggilingan ego, maka 2026 adalah masa blooming. Masa ketika sisa-sisa masa lalu dilepaskan agar rasa sejati kita dapat muncul dengan utuh.
Tidak heran jika kopi di bagian akhir gelas selalu terasa lebih pekat. Di sanalah endapan hikmah berkumpul, menunggu untuk disadari, bukan dihindari.
Secara spiritual, peralihan dari 2025 ke 2026 adalah perjalanan dari fana menuju baqa. Kita belajar mematikan ambisi-ambisi konyol yang melelahkan, lalu menghidupkan kesadaran yang lebih jernih. Tidak perlu terburu-buru meneguk habis tahun yang baru. Tuhan tidak menilai seberapa cepat kita menghabiskan minuman, melainkan seberapa hadir hati kita dalam setiap tegukan.
Di penghujung tahun ini, saya menyadari betapa tipis perbedaan antara akademisi dan kopi. Keduanya mudah menjadi asam ketika perut kosong, dan sama-sama membutuhkan stimulasi agar bisa bekerja dengan jernih. Resolusi saya untuk 2026 sederhana. Berhenti mengejar kesempurnaan. Mencari kesempurnaan di dunia yang fana ini sering kali hanya melahirkan kelelahan dan kekecewaan.
Sering kali kita mengeluh kopi tahun ini terlalu pahit, padahal kitalah yang lupa mengaduknya dengan sabar. Kita mengeluh 2025 begitu melelahkan, padahal kita sendiri yang gemar menambah beban dengan ekspektasi berlebih terhadap diri sendiri. Bahkan ada orang yang tidak melakukan apa pun selain mengeluh, seakan-akan diam dan bekerja pelan jauh lebih buruk daripada terus mengoceh tanpa kontribusi.
Menuju 2026, jangan lupa bernapas dan menyeruput. Tahun depan adalah cangkir kosong. Jangan tergesa mengisinya dengan kecemasan, target berlebihan, atau kerumitan yang belum tentu perlu. Biarkan ia hangat terlebih dahulu, agar tidak tumpah karena ketergesaan kita sendiri.
Meminjam pandangan Al-Ghazali, dunia hanyalah persinggahan. Jika 2025 adalah kedai yang bising, maka 2026 semestinya menjadi ruang yang lebih tenang. Tempat kita belajar mendengar bisikan batin, bukan sekadar riuh percakapan dan klaim pencapaian.
Mari kita sambut 2026 dengan keyakinan sederhana. Sepahit apa pun takdir, selalu ada aroma yang membuat kita tetap terjaga dan bersyukur. Tetaplah pahit jika itu jujur, daripada manis tapi palsu. Pada akhirnya, Tuhan tidak menilai seberapa mahal mesin kopi atau seindah cangkir yang kita miliki, melainkan ketulusan hati saat kita menyeduh dan membagikan kehangatan.
Cheers.
Dengan sedikit ampas di bibir, agar kegelisahan intelektual tidak sepenuhnya kering dari nilai-nilai spiritual.
Editor : Suhartina
Editor : Suhartina