Wacana transformasi pendidikan tinggi di Indonesia kembali hangat setelah Badri Munir Sukoco menyampaikan pentingnya perguruan tinggi melakukan perubahan agar tetap relevan menghadapi masa depan. Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dan perubahan dunia kerja yang bergerak begitu cepat, kampus memang dituntut untuk terus beradaptasi. Namun di balik semangat perubahan itu, terselip satu pertanyaan mendasar yang layak direnungkan bersama: apakah perguruan tinggi kini perlahan sedang diarahkan menjadi mesin pencetak tenaga kerja?
Kegelisahan tersebut bukan tanpa alasan. Hari ini, keberhasilan kampus semakin sering diukur dari seberapa cepat alumninya terserap dunia industri. Mahasiswa didorong menjadi lulusan yang “siap pakai”, kurikulum dibentuk mengikuti kebutuhan pasar, sementara dimensi kemanusiaan perlahan terdorong ke pinggir. Pendidikan tinggi bergerak semakin menyerupai ruang produksi, bukan lagi ruang pembentukan manusia. Padahal kampus seharusnya tidak hanya melahirkan individu yang terampil bekerja, tetapi juga manusia yang mampu berpikir kritis, membaca realitas sosial, merasakan persoalan sesama, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
Dalam perspektif Manajemen Sumber Daya Manusia, fenomena tersebut dapat dibaca melalui pendekatan Human Capital Theory yang dipopulerkan Gary Becker. Teori ini memandang pendidikan sebagai investasi untuk meningkatkan produktivitas individu agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi di pasar kerja. Dalam batas tertentu, pendekatan tersebut memang penting karena pendidikan harus mampu meningkatkan kompetensi, keterampilan, dan daya saing lulusan. Namun persoalan mulai muncul ketika manusia hanya dipandang sebagai “modal ekonomi”, bukan sebagai pribadi yang memiliki nilai moral, spiritual, dan sosial.
Ketika pendidikan semata-mata diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri, kampus berisiko melahirkan manusia yang terampil bekerja tetapi miskin kepekaan. Manusia perlahan berubah menjadi angka statistik, bukan jiwa yang tumbuh. Kampus kehilangan fungsinya sebagai ruang yang menumbuhkan nurani dan kesadaran sosial.
Di sisi lain, teori Resource Based View (RBV) dalam MSDM justru menjelaskan bahwa kekuatan utama sebuah organisasi terletak pada kualitas manusia yang dimilikinya, terutama manusia yang memiliki karakter, kreativitas, nilai-nilai unik, dan kemampuan yang sulit ditiru. Dalam konteks pendidikan tinggi, kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan keterampilan teknis, tetapi juga harus melahirkan manusia yang berintegritas, adaptif, dan memiliki kepemimpinan sosial.
Sebab di era kecerdasan buatan seperti hari ini, kompetensi teknis perlahan dapat digantikan mesin. Namun empati, kebijaksanaan, moralitas, dan kemampuan memahami manusia tetap menjadi keunggulan yang tidak dapat diproduksi algoritma. Dunia mungkin mampu menciptakan teknologi yang semakin canggih, tetapi tidak semua hal dapat digantikan kecerdasan buatan. Ada sisi-sisi kemanusiaan yang tetap hanya dapat dijaga oleh manusia itu sendiri.
Di titik inilah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memiliki posisi yang sangat penting. PTKIN bukan sekadar lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembinaan akhlak, spiritualitas, dan kesadaran kemanusiaan. Ketika banyak orang mulai khawatir pendidikan kehilangan ruhnya akibat orientasi yang terlalu pragmatis, PTKIN justru hadir menawarkan keseimbangan antara intelektualitas dan moralitas, antara kemajuan teknologi dan kedalaman spiritual.
Sebagai bagian dari PTKIN, IAIN Parepare memiliki peluang besar untuk menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tidak harus kehilangan sisi manusianya. Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat mahasiswa belajar mencari pekerjaan, tetapi juga tempat mereka belajar memahami kehidupan. Tempat lahirnya gagasan, kepedulian, dan keberpihakan terhadap sesama.
Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang mahir menggunakan teknologi, tetapi juga generasi yang memiliki empati, kejujuran, kepedulian sosial, dan kemampuan menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah dunia yang semakin individualistis.
Pandangan tersebut juga relevan dengan Behavioral Approach dalam MSDM yang menekankan bahwa organisasi tidak cukup hanya membentuk keterampilan (skill), tetapi juga perilaku dan karakter individu. Pendidikan tinggi idealnya tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga manusia yang memiliki etika, loyalitas sosial, kemampuan berkolaborasi, dan kepedulian terhadap masyarakat.
Sebab krisis terbesar dunia modern sesungguhnya bukan hanya krisis teknologi, melainkan krisis makna dan kemanusiaan. Dunia hari ini dipenuhi manusia-manusia cerdas, tetapi sering kali kehilangan empati. Kita menyaksikan kemajuan yang melesat, tetapi pada saat yang sama menyaksikan kesepian sosial, polarisasi, dan pudarnya kepedulian terhadap sesama.
Dalam konteks itulah gagasan Kurikulum Cinta yang digaungkan Kementerian Agama Republik Indonesia menjadi sangat relevan. Kurikulum ini bukan sekadar jargon romantis dalam dunia pendidikan, melainkan ikhtiar menghadirkan kembali wajah pendidikan yang lebih hangat, inklusif, dan berorientasi pada kemanusiaan. Ketika ruang publik semakin dipenuhi polarisasi, ujaran kebencian, dan krisis empati, pendidikan justru harus menjadi ruang yang menumbuhkan cinta: cinta terhadap ilmu, sesama manusia, lingkungan, dan bangsa.
Melalui semangat tersebut, PTKIN memiliki kekuatan yang mungkin tidak dimiliki banyak perguruan tinggi lain, yakni kemampuan mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai spiritual dan sosial. Di kampus seperti IAIN Parepare, mahasiswa tidak hanya diajak menjadi sarjana, tetapi juga diajak menjadi manusia yang utuh. Mereka belajar bahwa keberhasilan hidup bukan hanya tentang jabatan dan penghasilan, tetapi juga tentang manfaat, keberpihakan, dan kemampuan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Karena itu, transformasi pendidikan tinggi semestinya tidak berhenti pada modernisasi sistem atau penyesuaian terhadap kebutuhan industri semata. Transformasi harus menyentuh dimensi yang lebih mendasar: bagaimana kampus tetap mampu menjaga nilai kemanusiaan di tengah perubahan zaman.
Sebab jika pendidikan hanya melahirkan manusia yang siap kerja tanpa kepekaan moral dan sosial, maka kampus sedang kehilangan makna terdalamnya.
Dan ketika kampus kehilangan ruh kemanusiaannya, yang lahir bukan lagi peradaban, melainkan sekadar generasi yang pandai bekerja tetapi lupa cara menjadi manusia.
Dalam situasi seperti sekarang, PTKIN melalui pendekatan pendidikan yang memadukan ilmu, akhlak, dan cinta dapat menjadi salah satu jawaban penting atas kegelisahan dunia pendidikan hari ini. Sebab pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang siap kerja, tetapi juga manusia yang siap menjaga peradaban.
Editor : Sri Rahayu