Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar IAIN Parepare pada tanggal 10 Februari 2026 bukan sekadar seremoni akademik tertinggi, melainkan ruang pembelajaran nilai. Pada momen itulah, pesan-pesan Rektor IAIN Parepare, Prof. Dr. Hannani, M.Ag, tampil bukan hanya sebagai pidato struktural atau pesan akademik, tetapi sebagai cermin kepemimpinan yang mendidik dengan keteladanan, kebijaksanaan, dan kedalaman spiritual.
Satu penampakan yang paling membekas adalah ketawadhuan Rektor saat mengukuhkan 3 Guru Besar. Beliau terlebih dahulu sungkem dan tidak melangkah tanpa izin Prof. Dr. KH. Rahim Arsyad, M.A. Sebuah gestur yang sederhana, namun sarat makna. Di tengah budaya akademik modern yang kerap menonjolkan pencapaian personal, sikap ini justru menegaskan bahwa ilmu tidak pernah berdiri sendiri tanpa adab. Keteladanan tersebut terasa sejuk, terlebih karena beliau hadir dalam dua wajah sekaligus: sebagai pimpinan akademik IAIN Parepare dan sebagai tokoh religius, Pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Zubdatul Asrar Kota Parepare. Inilah figur ulama-akademisi yang menyatukan otoritas keilmuan dan keluhuran akhlak.
Pesan Rektor kemudian ditarik lebih dalam, menyentuh pengalaman spiritual beliau ketika pertama kali memasuki Pondok Pesantren DDI Kaballangan. Doa yang diajarkan oleh guru beliau KH. Abdulaziz:
“Allahumma yā Mu‘allima Ibrāhīma al-ḥikmah, ‘allimnī”,
bukan sekadar doa pengantar menuntut ilmu, melainkan fondasi cara pandang. Dari sinilah ditegaskan bahwa puncak tertinggi dalam dunia akademik memang Guru Besar, tetapi puncak tertinggi dalam spiritualitas adalah kebijaksanaan. Ilmu bisa mengangkat derajat, namun hikmah menjaga arah.
Penegasan ini dipertegas dengan doa Al-Qur’an yang dibacakan:
“Rabbi hab lī ḥukman wa alḥiqnī biṣ-ṣāliḥīn, waj‘al lī lisāna ṣidqin fī al-ākhirīn, waj‘alnī min waratsati jannatin na‘īm.”
Doa ini seolah menjadi manifesto hidup seorang akademisi Muslim: memohon kebijaksanaan, keistiqamahan dalam kebaikan, warisan nama baik, dan pada akhirnya keselamatan akhirat.
Ciri orang bijaksana yang dikutip Rektor sangat menohok kesadaran:
“Man naẓara ilā al-khalqi halaka, wa man naẓara ilā al-Khāliq istarāḥa.”
Barang siapa hanya memandang makhluk, ia akan binasa; namun siapa yang memandang Sang Pencipta, ia akan menemukan ketenteraman. Pesan ini dilanjutkan dengan peringatan agar tidak larut dalam kekecewaan atas peristiwa hidup, sebab semua yang tampak hanyalah permukaan. Di balik setiap kejadian ada kehendak Allah Yang Maha Rahman, Rahim, dan Hakim. Inilah pelajaran teologi ketenangan yang sangat relevan bagi akademisi dan mahasiswa di tengah tekanan capaian, target, dan kompetisi.
Menariknya, refleksi spiritual tersebut tidak berhenti di wilayah batin, tetapi ditautkan dengan kaidah metodologi pendidikan bahasa Arab yang sangat filosofis:
“Al-māddah muhimmatun, walākin aṭ-ṭarīqah ahammu mina al-māddah; wal-mudarris ahammu mina al-māddah wa aṭ-ṭarīqah; wa rūḥ al-mudarris ahammu mina al-mudarris nafsih.”
Materi itu penting, tetapi metode lebih penting, namun kehadiran guru lebih penting dari keduanya, bahkan ruh guru lebih penting daripada guru itu sendiri. Pesan ini menjadi kritik halus terhadap pendidikan yang terlalu teknokratis. Hakikat pendidikan, sebagaimana ditekankan Rektor, bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan transmisi nilai dan ruh keikhlasan.
Sebagai penutup, Rektor mengajak seluruh hadirin untuk senantiasa mendoakan para santri, mahasiswa, dan keluarga yang telah mendahului kita. Doa ini mengingatkan bahwa dunia akademik bukan menara gading yang terpisah dari realitas kemanusiaan, melainkan jejaring doa, ingatan, dan tanggung jawab moral lintas generasi.
Pada akhirnya, pesan Rektor Prof. Dr. Hannani, M.Ag dalam Sidang Senat Terbuka tersebut menghadirkan satu pelajaran besar: kepemimpinan akademik sejati bukan hanya tentang jabatan dan gelar, tetapi tentang adab, hikmah, dan keberpihakan pada nilai-nilai ilahiah. Di situlah ilmu menjadi cahaya, dan kebijaksanaan menjadi penuntunnya.