Tidak semua pelajaran penting disampaikan melalui pidato. Sebagian justru hadir dalam tindakan sederhana yang nyaris luput dari sorotan. Salah satunya terjadi pada pengukuhan guru besar di IAIN Parepare—sebuah momen singkat yang diam-diam menyimpan pesan mendalam tentang kepemimpinan, adab, dan pendidikan.
Ketika acara memasuki puncak pengukuhan tiga guru besar, publik menunggu hal yang lazim: rektor melangkah ke podium untuk menjalankan tugas seremonialnya. Namun Prof. Dr. Hannani, M.Ag. justru mengambil langkah berbeda. Ia menuju barisan depan undangan, mendatangi gurunya, Prof. Dr. H. Abdul Rahim Arsyad,MA. sosok yang ikut menanam fondasi institusi ini sejak masih bernama STAIN Parepare.

Rektor menunduk, mencium tangan sang guru, lalu kembali menjalankan prosesi pengukuhan.
Tidak ada kata-kata yang diucapkan. Namun pesan yang sampai terasa begitu jelas.
Dalam etika kepemimpinan Islam, tindakan ini mencerminkan nilai tawadhu’—kerendahan hati sebagai inti kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa tinggi jabatannya, melainkan dari kesediaannya menjaga adab, terutama kepada guru. Dalam tradisi Islam, ilmu diyakini tidak hanya berpindah melalui pengajaran, tetapi juga melalui keberkahan relasi etik antara guru dan murid.
Pemikir Islam klasik Al-Ghazali menempatkan adab sebagai pintu masuk ilmu. Dalam Ihya’ Ulumuddin, ia menegaskan bahwa ilmu tanpa adab akan kehilangan cahaya. Maka, menghormati guru bukan sekadar etika sosial, melainkan fondasi moral dari seluruh proses pendidikan.
Tradisi akademik Nusantara lama memahami hal ini. Guru tidak hanya dipandang sebagai pengajar di ruang kelas, tetapi sebagai penjaga nilai dan pembentuk watak. Gestur mencium tangan dan menundukkan badan bukan simbol feodalisme, melainkan ungkapan penghormatan terhadap mata rantai keilmuan. Ia adalah bahasa budaya yang menyatukan Islam, adab, dan kearifan lokal.
Dalam konteks inilah peristiwa tersebut dapat dibaca sebagai praktik nyata kurikulum cinta—sebuah pendekatan pendidikan yang menempatkan relasi manusiawi sebagai inti pembelajaran. Kurikulum cinta tidak hadir dalam bentuk silabus atau dokumen kebijakan, melainkan hidup dalam teladan. Ia mengajarkan cinta pada ilmu, cinta pada guru, dan cinta pada sejarah institusi.
Di tengah dunia akademik yang semakin sibuk dengan angka—indeks kinerja, jabatan, dan target institusional—kurikulum cinta berfungsi sebagai penyeimbang. Ia mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang pencapaian, tetapi juga tentang pembentukan karakter. Tanpa fondasi etis, kemajuan akademik berisiko kehilangan arah kemanusiaannya.
Bagi sivitas akademika, momen ini adalah pelajaran yang sederhana namun kuat: setinggi apa pun jabatan seseorang, ia tidak pernah berhenti menjadi murid. Kematangan akademik tidak diukur dari jarak dengan guru, tetapi dari kemampuan menjaga hormat ketika jarak struktural telah terbentang.
Di tengah gegap gempita pengukuhan guru besar, barangkali inilah makna terdalamnya. Kepemimpinan akademik tidak selalu ditunjukkan melalui pidato atau kewenangan, tetapi melalui adab yang dijaga. Dari adab tumbuh keberkahan, dari keberkahan ilmu hidup, dan dari sanalah martabat lembaga dijaga.
Editor : Suherman