Skip ke Konten

Memperkuat Keluarga, Menghormati Guru: Sebuah Jalan Keluar dari Krisis Pendidikan Kita

oleh: Prof. Dr. Hannani, M. Ag (Rektor IAIN Parepare)
28 November 2025 oleh
Humas IAIN Parepare
Pengantar: Refleksi di Hari Guru 25 November 2025

Setiap tanggal 25 November, bangsa ini merayakan Hari Guru Nasional. Sebuah hari yang semestinya menjadi ruang syukur, penghormatan, dan momen refleksi mendalam. Namun tahun 2025 ini, perayaan itu hadir bukan hanya dengan ucapan selamat, melainkan juga dengan kegelisahan. Guru berdiri di tengah pusaran tekanan yang semakin berat administrasi yang menumpuk, harapan publik yang tinggi, dan penghargaan yang kian memudar.

Pendidikan Indonesia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Kita menghadapi dua krisis besar yang saling bertaut: learning crisis dan teaching crisis . Tujuh dari sepuluh anak Indonesia belum mencapai kemampuan dasar membaca, berhitung, dan memahami sains. Sementara guru, pilar utama pendidikan, justru harus berjalan dengan kaki yang terbelenggu oleh beban non-pembelajaran yang melelahkan.

Di tengah situasi ini, kita kembali teringat firman Allah:

> يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah mengangkat derajat orang-orang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādalah: 11)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar pekerjaan, melainkan kemuliaan. Namun kemuliaan ini harus dijaga-oleh negara, sekolah, masyarakat, dan terutama keluarga.

Tekanan Guru, Luka yang Turun ke Siswa

Banyak guru hari ini mengajar dalam kondisi tertekan. Administrasi yang menumpuk, tuntutan orang tua yang kadang berlebihan, dan stigma sosial yang mulai dangkal terhadap profesi guru membuat energi mereka terkuras sebelum masuk kelas.

Yang sering tak kita sadari: tekanan guru berimbas langsung pada siswa dan santri. Guru yang letih emosinya tak mampu memberikan pengajaran terbaik. Suasana kelas menjadi tegang. Siswa belajar dalam atmosfer yang tidak sepenuhnya kondusif. Di pesantren, santri bisa merasakan perubahan itu lebih kuat karena mereka hidup dan belajar dalam lingkungan yang terstruktur dan penuh interaksi.

Ketika guru diperlakukan buruk, murid ikut kehilangan figur teladan. Dan bila guru kehilangan wibawa, pendidikan kehilangan kompasnya.

Kesalahan Guru Sedikit Saja, Respon Orang Tua Bisa Berlebihan

Ironisnya, masyarakat hari ini menjadi makin reaktif. Kesalahan kecil saja yang dilakukan guru, misalnya menegur anak, meminta disiplin, atau memberi hukuman ringan, sering dibalas dengan kemarahan orang tua yang luar biasa. Ada yang datang dengan nada tinggi. Ada yang langsung menuduh tanpa bertanya. Ada yang merendahkan guru di hadapan anaknya sendiri.

Padahal saat orang tua diminta mengajar anaknya sendiri selama satu jam saja, mereka sering stres, marah-marah, frustasi, atau tidak tahan menghadapi perilaku dan mood anak. Ini membuktikan satu hal,
Mengajar itu bukan perkara mudah. Ada seni, kesabaran, teknik, dan ketulusan yang tidak dimiliki setiap orang. Mengajar adalah profesi kemanusiaan yang menuntut kedewasaan jiwa.

Maka sangat tidak adil jika guru dituntut sempurna, sementara orang tua tak ingin menanggung sebagian kecil saja dari beban itu.

Rumah Tidak Boleh Lepas Tangan

Krisis ini diperparah oleh pola pikir sebagian orang tua yang menganggap bahwa pendidikan adalah urusan sekolah sepenuhnya. Padahal rumah adalah madrasah pertama. Di sanalah akhlak, disiplin, fokus, karakter, dan kebiasaan dibentuk.
Allah mengingatkan kita:

> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taḥrīm: 6)

Ayat ini bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang tanggung jawab orang tua menyiapkan mental, spiritual, dan kebiasaan baik sebelum anak melangkah ke sekolah.

Menjadikan Rumah sebagai Sekolah Pertama

Ada langkah-langkah sederhana namun sangat fundamental yang dapat dilakukan keluarga:

1. Batasi gawai dan awasi konten: Pengawasan lebih penting daripada memarahi setelah terjadi.
2. Biasakan membaca 10–15 menit setiap hari: Kebiasaan kecil yang membentuk kemampuan besar.
3. Bangun rutinitas belajar ringan: Konsistensi jauh lebih penting daripada durasi.
4. Ciptakan suasana dialog, bukan bentakan: Anak yang didengar akan lebih mudah belajar.

Ketika keluarga kuat, sekolah tidak lagi bekerja sendirian. Rumah dan sekolah menjadi dua sayap yang mengangkat anak menuju masa depan.

Mengembalikan Martabat Guru

Menghormati guru bukan sekadar sopan santun, tetapi pondasi pendidikan. Rasulullah SAW bersabda:

> لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيرَنَا
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan menghormati yang tua.” (HR. Tirmidzi)

Guru yang dihormati akan mengajar dengan hati. Guru yang dihina akan kehilangan semangat. Dan ketika guru kehilangan martabatnya, anak-anaklah yang paling merasakan dampaknya.

Penutup: Muliakan Guru, Kuatkan Keluarga

Di Hari Guru Nasional 2025 ini, marilah kita kembali pada prinsip dasar:
Pendidikan adalah kerja bersama.
Rumah dan sekolah tidak boleh saling melempar tanggung jawab. Orang tua dan guru tidak boleh saling menyalahkan. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi, penghormatan, dan empati.

Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia bukan ditentukan oleh angka rapor hari ini, tetapi oleh cara kita memuliakan ilmu, menghargai guru, dan menguatkan keluarga.

Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2025.

Semoga bangsa ini kembali belajar untuk menghormati para penjaga peradaban: guru.

di dalam Opini
Antara Data dan Drama, Kinerja Pemerintah Parepare dalam Kontestasi Narasi Politik Lokal
Oleh : Nahrul Hayat (Dosen Ilmu Komunikasi IAIN Parepare)