Skip ke Konten

Menakar Kegagalan Pendidikan Islam Modern (Solusi Berbasis Sunnah Kontemporer)

4 Februari 2026 oleh
Humas IAIN Parepare

Oleh : Dr. Muhammad Jufri, M. Ag. (Wakil Dekan Fakultas Tarbiyah)


Humas IAIN Parepare --- Dalam Hadist Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه أبو داود)

Terjemahan : Barangsiapa yang menuntut ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari wajah Allah, namun ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan kesenangan duniawi, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud).

Dalam hadist lain Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الْعَالِمِ الَّذِي يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَيَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيءُ لِلنَّاسِ وَيَحْرِقُ نَفْسَهُ (رواه التبرانى)

Terjemahan : Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia namun ia melupakan dirinya sendiri adalah seperti lampu (lilin); ia menerangi manusia namun membakar dirinya sendiri.” (HR. At-Tabarani).

Tidak terelakkan lagi, ​dunia pendidikan Islam saat ini tengah menghadapi badai global, di mana ia terjebak di antara romantisasi masa lalu dan kegagapan menghadapi masa depan. Harus berani mengakui bahwa kegagalan ini berakar pada terjadinya dikotomi ilmu dan hirarki ketimpanga, spirit sunnah dipahami sekadar literasi, krisis meyodologi kritik berpikir.

​Salah satu dosa sejarah dalam sistem pendidikan kita adalah pemisahan tajam antara ilmu aqliyah (umum) dan naqliyah (agama). Ketimpangan ini menciptakan dualisne epistemologi. Pertama yakni ​lulusan agama yang buta literasi sains/teknologi, dan ilmuwan Muslim yang mengalami kekosongan nilai transendental. Kedua, masalah akses kualitas, yakni munculnya kasta antara madrasah tradisional yang kekurangan fasilitas dengan sekolah Islam elite yang terjebak dalam komersialisasi pendidikan, alih-alih dapat dikatakan kapitalisme pendidikan.

​Dalam kajian Sunnah kontemporer, kegagalan pendidikan terjadi ketika Sunnah hanya diajarkan sebagai teks statis dan bukan sebagai metodologi tang hidup dinamis.

Pendidikan sering kali terjebak pada pengajaran ahkam (hukum) yang bersifat dogmatis tanpa menyentuh maqasid (tujuan) dari Sunnah itu sendiri. ​Contohnya, Sunnah tentang kebersihan atau tatanan sosial sering kali hanya dihafal hadisnya, (itupun kalau dihafal), namun gagal diimplementasikan dalam ekosistem lembaga pendidikan yang bersih dan berintegritas.

​Pendidikan Islam cenderung bersifat banking system, meminjam istilah Paulo Freire, di mana guru menyetor informasi dan peserta didik menyimpannya tanpa hak kritik. ​Budaya Sami'na wa Atha'na, yang salah tempat mematikan nalar kritis peserta didik terhadap isu ketimpangan sosial dan ketidakadilan gender dan pranata kemanusiaan yang mungkin terjadi di lingkungan institusi pendidikan itu sendiri.

​Sebagai solusi dasar pemahaman tehadap sunah Nabi, maka melakukan redefenisi kurikulum berbasis integrasi antara nilai pendidikan Islam dan sunnah Nabi harus dilihat sebagai model problem-solving terhadap isu-isu global. Kegagalan pendidikan Islam bukanlah kegagalan Islam itu sendiri, melainkan kegagalan kita dalam menerjemahkan nilai-nilai kenabian (nubuwwah) ke dalam sistem yang adaptif. Sunnah Nabi yang sangat progresif pada zamannya seharusnya menjadi inspirasi untuk meruntuhkan tembok ketimpangan, bukan justru menjadi legitimasi untuk kemandekan berpikir.

​Dunia pendidikan Islam kontemporer kini tengah mengidap penyakit haus pengakuan. Di tengah arus globalisasi, institusi pendidikan berdasarkan jenjangnya masing-masing dan para akademisinya sering kali lebih sibuk berdandang dan memoles diri di depan cermin publik daripada membenahi kedalaman spiritual dan intelektual.

​1. Terjadi pergeseran modifikasi keilmuan dan syahwat rekognisi. Ada pergeseran orientasi dari li-i’lai kalimatillah (menjunjung tinggi nilai kebenaran) menjadi li-i’lai al-peringkat (menjunjung tinggi peringkat). Akibatnya terjadi penyakit akademik, berupa obsesi berlebih pada indeks sitasi, metrik global, dan branding institusi yang sering kali artifisial.

Dalam perspektif Kritik Sunnah kontemporer, ini adalah bentuk modern dari Riya’ intelektual. Nabi Saw., telah memperingatkan tentang orang yang menuntut ilmu hanya untuk mendebat orang bodoh atau mencari perhatian manusia (liyashrifa bihi wujuhan nisa). Pendidikan kehilangan keberkahannya ketika tujuan akhirnya adalah validasi eksternal, bukan transformasi internal.

2. Pudarnya atau terkikisnya adab yang terselubung di balik kemajemukan berpikir global. Kita seringkali menggaungkan slogan kemajemukan berpikir global hanya sebagai kosmetik kebijakan agar terlihat moderat dan progresif di mata dunia internasional.

Seringkali kita bicara inklusivitas, namun di sisi lain, ekosistem akademik kita sering kali menjadi sangat eksklusif dan elitis. Sementara hakikat pendidikan Islam sesungguhnya melahirkan insan kamil yang memiliki kerendahan hati intelektual (tawadhu). Namun, sistem saat ini justru memproduksi teknokrat bahkam birokrasi agama yang mahir secara metodologi tetapi kering secara empati dan gagal menjawab ketimpangan di depan mata.

3. Mencuaknya dehumanisasi pendidikan yang menghitung angka san menfikan sisi kemanusiaan. Kegagalan krusial terjadi ketika keberhasilan pendidikan hanya diukur dari statistik out put lulusan dan daya serap pasar kerja. Akibatnya Pendidikan Islam kini seringkali mengadopsi mentah-mentah model korporasi. hubungan guru-murid yang dalam Sunnah digambarkan sebagai hubungan spiritual-orang tua (murabbi), bergeser menjadi hubungan penyedia jasa dan konsumen.

Ketika “ruh" pendidikan yang berbasis pada tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan hikmah (kebijaksanaan) dibuang demi mengejar standar birokrasi global, maka sesungguhnya yang tersisa hanyalah cangkang kosong yang megah namun tak berpenghuni.

Hingga pada akhirnya, ​untuk mengobati penyakit ini, pendidikan Islam harus berani melakukan dekonstruksi prestise yang menjadikan intelektualialitas yang jujur. Rekognisi global tidak boleh menjadi tujuan utama, melainkan dampak sampingan dari kualitas yang autentik. ​"Ilmu bukan tentang seberapa banyak hafalan atau sitasi, tapi tentang seberapa besar rasa takut (tanggung jawab) kita kepada Allah dan kemanusiaan."

Mungkin menjadi sebuah lelucon pemantik bahwa kiranya kita: Pertama, mengembalikan tradisi Ikhlas dalam riset; menulis untuk memecahkan masalah ketimpangan, bukan sekadar memenuhi kuota jurnal. Kedua, Mengadopsi kemajemukan berpikir global tanpa kehilangan identitas Sunnah yang mengakar pada pembelaan terhadap kaum mustad'afin (terpinggirkan). Ketiga, Mengembalikan kampus, madrasah dan pesantren dan lembaga pendidikan lainnya sebagai pusat mata air moral, dan bukan menghasilkan cucuran air mata para pendidik sebelumnya dan para nenek moyang kita dalam kuburnya. 

​Penyakit akademik yang paling kronis saat ini adalah pergeseran niat dari pencarian kebenaran (al-haqq) menuju pencarian ketenaran (al-shuhrah). Harus ada kepastian dan jaminan memastikan bahwa kurikulum kita mampu menghapuskan ketimpangan sosial dan moral di masyarakat. Di dalamnya terdapat artikulasi nilai-nilai tazkiyah, hikmah dan hujjah dalam kehidupan.

Wa Akhiran, rekognisi publik adalah bayang-bayang/patamorgana, jika kita mengejarnya, ia akan lari. Namun jika kita berjalan menuju cahaya kebenaran dan pengabdian yang tulus, maka rekognisi itu akan mengikuti dengan sendirinya. Sudah saatnya kita berhenti mematut dan memoles diri di depan cermin global dan mulai bekerja nyata di tengah realitas umat. Pendidikan Islam harus kembali ke jati dirinya: dari umat, oleh umat, dan untuk kemanusiaan yang beradab menuju terwujudnya Wilaayatul al-Fadhilah. Baldatun Thayyibatun w Rabb al-Ghafur. Waallahu A’lam bi Al Shawab.



Editor : Suherman

di dalam Opini
Sampah Menguji Transisi : Ujian Sunyi Negara, Ujian Nyata Konstitusi
Oleh : Badruzzaman Nawawi, M.H. (Dosen Hukum Tata Negara Siyasah IAIN Parepare)