Skip ke Konten

TRADISI AKADEMIK: DIKUTU-KUTUI VERSUS AMBA'-AMBA' KULANTU (Perspektif Nilai Karakter al-Waqa' atau al-Wiqayah)

17 Desember 2025 oleh
Humas IAIN Parepare

Oleh: Dr. Muhammad Jufri, M.Ag. 

(Wakil Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Parepare)


Humas IAIN Parepare --- Memahami konteks khazanah budaya akademik, berbagai istilah kultural yang secara apik menangkap etos kerja dan orientasi kualitas seorang intelektual. Dua istilah yang disebutkan, "Dikutu-kutui" dan "Amba'-amba' Kulantu", memberikan dikotomi yang menarik. Keduanya merefleksikan dua kutub pendekatan yang saling berlawanan dalam menunaikan tugas keilmuan antara ketelitian maksimal dan kelalaian minimal. Menarik dan menelaah substansi makna kedua tradisi ini dalam kacamata nilai karakter al-Waqa' (serius, mendalam, berwibawa) dan al-Wiqayah (kewaspadaan, kehati-hatian, perlindungan dari kesalahan), yang sangat relevan dalam disiplin Ilmu Hadis dan Hadis Kontemporer sebagai distingsi keilmuan.

Dikutu-kutui sebagai Manifestasi Karakter al-Wiqayah

Terma "Dikutu-kutui", yang secara harfiah berarti mencari kutu dalam rambut lebat dengan penuh kesabaran, adalah metafora sempurna untuk etika kerja yang mendalam, teliti, dan sabar. Dalam konteks akademik, ini adalah proses di mana seorang dosen atau peneliti tidak hanya membaca, tetapi juga meneliti (verifikasi data), menelaah (memahami konteks dan asbabun wurud), menganalisis (mengurai implikasi teoritis), dan mengedit (memastikan akurasi dan kemutakhiran) setiap bagian dari karyanya. Sedangkan, Relevansi Ilmu Hadis: Dalam studi Hadis, proses ini memiliki makna paralel dengan Takhrij al-Hadis (melacak sumber hadis), Naqd al-Sanad wal-Matn (kritik sanad dan matan), dan Ilal al-Hadis (mencari cacat tersembunyi). Semua langkah ini membutuhkan al-Wiqayah, yakni kewaspadaan tertinggi untuk melindungi diri dan umat dari kesalahan atribusi atau kekeliruan interpretasi terhadap sunnah Nabi. Kualitas Hadis (Sahih, Hasan, Da'if) sangat bergantung pada keseriusan "mengutu-kutui" setiap perawi dan matan.

Terdapat nilai-nilai karakter universal bahwa tradisi ini menghasilkan karya akademik yang kokoh, otentik, dan bermutu tinggi. Ini menunjukkan integritas intelektual dan tanggung jawab moral seorang akademisi terhadap ilmu yang diembannya.

Amba'-amba' Kulantu sebagai Resiko Instant Menurunnya Kualitas Akademik

Sebaliknya, istilah "Amba'-amba' Kulantu" (bekerja dengan gaya sekedar meletakkan lutut di depan badan, atau meremehkan/asal selesai) mencerminkan budaya instan dan atau superfisial. Implementasinya merupakan sebuah klausa pendekatan "asal jadi" atau "asal ada" (kerja kuantitas tanpa kualitas), di mana tujuan utama adalah pengakuan, bukan substansi. Tugas diselesaikan sekadar untuk memenuhi syarat administratif atau target publikasi tanpa proses verifikasi, telaah kritis, atau analisis mendalam. 

Relevansinya dalam Ilmu Hadis adalah menerapkan gaya ini dalam studi hadis berakibat fatal. Misalnya, mengutip Hadis tanpa verifikasi statusnya (Sahih atau Da'if), melakukan interpretasi kontemporer secara serampangan tanpa memahami maqashid syari'ah (tujuan syariat), atau menulis kajian Hadis tanpa referensi primer yang memadai. Ini adalah praktik yang bertentangan dengan semangat al-Waqa’ (kehormatan/wibawa keilmuan). Sedangkan nilai karakter universal yang dihasilkan adalah tradisi ini berpotensi meruntuhkan kredibilitas keilmuan dan menghasilkan “sampah akademik” (academic trash). Meskipun dapat memberikan pengakuan instan (fast-track), hasilnya seringkali rapuh, dangkal, dan tidak berkelanjutan bagi pengembangan ilmu itu sendiri.

Akademisi yang menerapkan budaya ini berinvestasi pada kualitas intelektual dan reputasi institusi. Setiap hasil kerja (artikel, buku, atau lulusan yang dibimbing) akan menjadi referensi otoritatif yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Sedangkan dampak yang dihasilkan berorientasi pada ekosistem akademik yang sehat, kritis, dan berintegritas. Menghasilkan lulusan yang siap menjadi ulama, intelektual berbasis riset yang diteliti, sebagaimana karakter para ulama hadis terdahulu. Sementara satu sisi, akademisi yang menerapkan budaya ini berinvestasi pada kuantitas belaka dan pengakuan cepat. Tugas diselesaikan untuk memenuhi tuntutan birokrasi dan tidak identik  dengan buadaya kontribusi ilmu pengetahuan secara ktitis dan kolektif.

Pada akhirnya, dinamika antara Dikutu-kutui dan Amba'-amba' Kulantu bukan hanya soal etos pribadi, melainkan pilihan strategis budaya kerja organisasi. Jika institusi ingin membangun reputasi keilmuan yang kuat, nilai al-Wiqayah (kehati-hatian) harus menjadi core value yang diterjemahkan dalam setiap Standar Operasional Prosedur (SOP) akademik. Dengan demikian, budaya kerja harian para akademisi harus diarahkan untuk mengutamakan kedalaman telaah dan kewaspadaan metodologis, menjadikannya sebagai ciri khas seorang muhaddits atau mujtahid modern. Wallahu A’lam bi al-Shawab.



Editor : Suherman


di dalam Opini
Transformasi IAIN Parepare, Sebuah Langkah Strategis Menuju Universitas Internasional yang berkelas Dunia
Oleh : Badruzzaman, M.H (Dosen HTN IAIN Parepare)