Skip ke Konten

Kontestasi Modal dan Praktik Sosial Pekerja Informal di Ruang Urban: Membaca Dinamika Reproduksi Sosial Pemulung

23 Februari 2026 oleh
Humas IAIN Parepare

Resensi Buku

Penulis Resensi : Dr. Suherman, M.M.

Identitas Buku

  • Judul : Dinamika Reproduksi Sosial Pekerja Informal dalam Masyarakat Urban di Kota Makassar

  • Penulis Buku : Dr. H. M. Ihsan Darwis

  • Editor : Hasniati

  • Penerbit : IAIN Parepare Nusantara Press

  • Tahun Terbit : 2024

  • Tebal : vi + 179 halaman

  • ISBN: 978-623-8563-20-3


Humas IAIN Parepare --- Perkembangan kota yang ditandai oleh meningkatnya arus urbanisasi tidak hanya melahirkan modernitas, tetapi juga menghadirkan realitas ketimpangan sosial yang semakin kompleks. Dalam lanskap sosial perkotaan, sektor informal tumbuh sebagai ruang alternatif bagi kelompok masyarakat yang tidak sepenuhnya terakomodasi dalam sistem ekonomi formal. 

Salah satu komunitas yang hidup dalam dinamika tersebut adalah pemulung yang menggantungkan kehidupannya pada aktivitas ekonomi di wilayah Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS). Realitas inilah yang menjadi fokus dalam buku Dinamika Reproduksi Sosial Pekerja Informal dalam Masyarakat Urban di Kota Makassar karya Dr. H. M. Ihsan Darwis yang diterbitkan oleh IAIN Parepare Nusantara Press tahun 2024.

Buku ini berangkat dari asumsi bahwa TPAS tidak hanya berfungsi sebagai ruang ekonomi bagi pekerja sektor informal, tetapi juga merupakan arena sosial yang mempertemukan berbagai aktor dengan kepentingan yang beragam. Dalam konteks masyarakat urban di Kota Makassar, arena TPAS Tamangapa menjadi ruang kontestasi yang sarat dengan relasi kuasa antara pemulung, pengepul, pemilik lapak, pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, aktor politik lokal, hingga lembaga keuangan seperti NGO dan program Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Secara teoritik, buku ini menggunakan pendekatan praktik sosial dari Pierre Bourdieu sebagai kerangka analisis. Dalam perspektif Bourdieu, praktik sosial merupakan hasil dialektika antara habitus, modal, dan arena. Habitus merujuk pada disposisi sosial yang terbentuk melalui pengalaman hidup individu atau kelompok dalam struktur sosial tertentu. Modal tidak hanya dipahami dalam bentuk ekonomi, tetapi juga mencakup modal sosial, budaya, dan simbolik. Sementara itu, arena merupakan ruang sosial tempat terjadinya pertarungan kepentingan antar aktor dalam memperebutkan sumber daya dan legitimasi.

Melalui formulasi generatif (habitus × modal) + arena = praktik, penulis menunjukkan bahwa aktivitas pemulung di TPAS Tamangapa tidak sekadar didorong oleh kebutuhan ekonomi, tetapi juga merupakan strategi sosial dalam mempertahankan eksistensi di tengah struktur sosial yang kompetitif. Sejak tahun 1993, kontestasi sosial telah berlangsung antara pemulung warga asli dengan pengepul dan pemilik lapak melalui mekanisme distribusi dan penimbangan sampah. Kedekatan geografis antara permukiman pemulung dengan lapak menjadi strategi efisiensi ekonomi yang memungkinkan mereka meminimalisasi biaya operasional.

Dinamika tersebut semakin kompleks sejak tahun 1998 ketika warga pendatang dari berbagai kabupaten/kota mulai memadati kawasan TPAS akibat meningkatnya volume sampah perkotaan yang dipicu oleh pola konsumsi masyarakat urban. Masuknya aktor baru memperluas spektrum kontestasi sosial di arena TPAS, sekaligus membentuk struktur relasi baru yang melibatkan berbagai kepentingan politik, ekonomi, dan sosial.

Intervensi pemerintah daerah melalui rekrutmen pemulung sebagai tenaga kebersihan maupun sopir truk sampah menunjukkan adanya upaya integrasi sosial sekaligus kontrol struktural terhadap arena TPAS. Dalam konteks ini, dominasi lembaga keuangan—baik yang berasal dari pemerintah maupun investor—menjadi faktor utama dalam menentukan tingkat kesejahteraan pemulung. Modal ekonomi berfungsi sebagai pusat kendali yang membentuk kesepakatan kolektif di antara para aktor dan mengarahkan praktik sosial komunitas pemulung hingga saat ini.

Dari sudut pandang resensator, latar belakang profesional penulis sebelum menjadi akademisi turut memberikan kontribusi terhadap kedalaman analisis dalam buku ini. Pengalaman penulis sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) di lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia wilayah Kota Makassar memungkinkan terbangunnya sensitivitas sosial terhadap realitas kehidupan masyarakat marginal. Hal ini menjadikan pembahasan dalam buku tidak berhenti pada tataran teoritik, tetapi juga merefleksikan pengalaman praksis dalam membaca dinamika sosial masyarakat bawah.

Meskipun demikian, terdapat beberapa catatan konstruktif yang dapat menjadi penguatan pada pengembangan edisi selanjutnya. Buku ini akan semakin komprehensif apabila dilengkapi dengan analisis kebijakan publik yang lebih aplikatif, khususnya terkait pemberdayaan pekerja sektor informal di wilayah perkotaan. Selain itu, eksplorasi terhadap dimensi gender dalam komunitas pemulung serta integrasi model pemberdayaan berbasis komunitas juga dapat memperkaya kontribusi praktis buku ini.

Secara keseluruhan, buku ini memberikan kontribusi signifikan dalam kajian sosiologi perkotaan, khususnya dalam memahami dinamika reproduksi sosial pekerja sektor informal di tengah kompleksitas struktur masyarakat urban. Praktik sosial komunitas pemulung di arena TPAS Tamangapa memperlihatkan bahwa strategi bertahan hidup masyarakat marginal tidak terlepas dari relasi kuasa yang terbentuk melalui distribusi modal dalam struktur sosial.

Buku ini layak dijadikan referensi bagi akademisi, praktisi pemberdayaan masyarakat, maupun pembuat kebijakan yang memiliki perhatian terhadap pembangunan sosial berbasis komunitas di wilayah perkotaan.

di dalam Riset
SURVEI PEMAHAMAN, SIKAP PRIBADI & POTENSI KEKERASAN SEKSUAL DI IAIN PAREPARE